Masuknya Marriott di Samarinda, Sinyal Kuat Daya Tarik Investasi Kota Tepian
Kehadiran brand global seperti Marriott menjadi sinyal bahwa kota ini mulai dilirik dalam peta bisnis internasional.
SAMARINDA - Masuknya jaringan global Marriott International ke Kota Samarinda menandai babak baru dalam peta investasi di Kota Tepian.
Pembangunan hotel bintang empat Courtyard by Marriott yang dikembangkan PT KSA Realty Indonesia tidak sekadar proyek properti, tetapi juga menjadi indikator meningkatnya kepercayaan investor terhadap potensi daerah.
Dalam beberapa tahun terakhir, Samarinda mulai menunjukkan daya tarik sebagai destinasi investasi baru, khususnya di sektor properti dan perhotelan.
Kehadiran brand global seperti Marriott menjadi sinyal bahwa kota ini mulai dilirik dalam peta bisnis internasional.
Wali Kota Andi Harun menegaskan bahwa proyek ini mencerminkan kepercayaan dunia usaha terhadap stabilitas dan prospek pertumbuhan ekonomi daerah.
“Ini bukan hanya seremoni. Ini simbol bahwa Samarinda dipercaya sebagai kota yang aman dan menjanjikan untuk investasi,” tegasnya.
Menurutnya, ekspansi dunia usaha ke sektor baru, seperti yang dilakukan oleh PT Kartika Samudra Adijaya melalui anak usahanya, menunjukkan optimisme terhadap iklim investasi di Samarinda.
Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk diversifikasi bisnis yang strategis di tengah perkembangan kawasan.
Proyek hotel ini dirancang berdiri di atas lahan seluas 8.600 meter persegi dengan bangunan mencapai 19 lantai.
Fasilitas yang ditawarkan pun mengarah pada kebutuhan pasar bisnis dan kegiatan berskala besar, seperti ballroom berkapasitas hingga 1.000 orang, ruang pertemuan, hingga berbagai fasilitas penunjang lainnya.
Selain itu, pendekatan pembangunan yang mengusung konsep ramah lingkungan menjadi nilai tambah tersendiri.
Penerapan sistem pengolahan limbah mandiri serta pemanfaatan air hujan mencerminkan tren investasi yang tidak hanya berorientasi ekonomi, tetapi juga keberlanjutan.
Bagi investor, stabilitas daerah menjadi faktor utama dalam menentukan lokasi investasi. Andi Harun menekankan pentingnya menjaga kondisi sosial yang kondusif agar kepercayaan tersebut tetap terjaga.
“Di mana ada investasi, di situ ada pesan bahwa daerah tersebut layak dan aman untuk kegiatan usaha. Ini harus kita jaga bersama,” ujarnya.
Dalam konteks yang lebih luas, Samarinda dipandang memiliki posisi strategis seiring dengan pengembangan Ibu Kota Nusantara.
Konektivitas wilayah yang semakin terbuka menjadikan kota ini tidak lagi sekadar penyangga, tetapi bagian dari ekosistem ekonomi regional.
“Samarinda tidak lagi sekadar penyangga, tetapi menjadi mitra strategis bersama Balikpapan dalam konsep Tri Cities Connected. Ini membuka peluang besar, termasuk sektor perhotelan,” jelasnya.
Masuknya investasi berskala besar seperti ini diyakini akan memberikan efek berganda bagi perekonomian daerah.
Tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga mendorong pertumbuhan sektor lain seperti UMKM, transportasi, dan jasa pendukung.
“Manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat, baik saat konstruksi maupun saat operasional nanti,” katanya.
Pemerintah Kota Samarinda juga menegaskan komitmennya dalam menjaga kemudahan perizinan serta keamanan investasi.
Hal ini menjadi bagian penting dalam menciptakan iklim usaha yang kompetitif di tingkat regional maupun nasional.
“Kami pastikan proses perizinan berjalan baik, dan bersama TNI-Polri, keamanan investasi akan terus dijaga. Tidak boleh ada gangguan terhadap kegiatan investasi,” tegasnya.
Dengan masuknya investor global, Samarinda perlahan menegaskan posisinya sebagai kota yang tidak hanya tumbuh, tetapi juga dipercaya.
Bagi dunia usaha, kepercayaan adalah modal utama—dan di Kota Tepian, modal itu kini mulai terbentuk. (*)
Apa Reaksi Anda?