Lebih dari Sekadar Haji: Yuni Mardanis dan Ketulusan Melayani Lansia di Tanah Suci
Yuni Mardanis, petani asal Solok, mengajarkan makna haji sebagai ladang pengabdian. Di Tanah Suci ia merawat jamaah lansia bak ibunya sendiri, menemukan ketenangan dalam melayani sesama.
PADANG - Di tengah arus jutaan manusia yang bergerak menunaikan ibadah haji 2026, langkah Yuni Mardanis, petugas Haji Kloter 9 Debarkasi Padang, sering kali melambat. Ia tidak tergesa-gesa mengejar rombongan.
Sebaliknya, perempuan asal Nagari Sungai Nanam, Kabupaten Solok itu justru kerap berhenti, memapah, dan menuntun langkah para jemaah lanjut usia yang berjalan tertatih. Mereka bukan keluarga, namun selama di Tanah Suci, Yuni merawat mereka seolah sedang melayani ibunya sendiri.
Bagi banyak orang, haji adalah perjalanan mendekatkan diri kepada Allah. Namun bagi Yuni, ada makna lain yang tak kalah berharga kesempatan mengabdi kepada sesama. Sepanjang rangkaian ibadah, waktunya banyak dihabiskan untuk mendampingi para lansia.
Mulai dari mengantar ke tempat ibadah, memastikan mereka makan dan minum, hingga mengantarkan kembali ke kamar penginapan semua ia lakukan dengan hati yang ikhlas.
“Raso maabehan amak jo induak awak rasonyo,” ujarnya, Sabtu (13/6/2026), dalam bahasa Minang yang kemudian diterjemahkannya, “Rasanya seperti melayani ibu sendiri.”
Kalimat sederhana itu menjadi kunci kesabarannya, setiap kali membantu, ia selalu membayangkan bagaimana jika orang yang dihadapannya adalah ibunya. Karena itu, tugas itu tak pernah terasa sebagai beban, Justru di sanalah ia menemukan ketenangan dan kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Di kampung halamannya, Yuni hanyalah seorang petani sederhana yang sehari-hari mengurus ladang. Ia mendaftar haji sejak tahun 2013 dan menunggu lebih dari satu dekade hingga akhirnya diberi kesempatan berangkat tahun ini, penantian panjang itu terbayar lunas ketika ia menapakkan kaki di Makkah dan Madinah.
Namun di balik ibadah yang ia laksanakan, pengalaman yang paling membekas bukanlah tentang jarak yang ditempuh atau keramaian yang menyelimuti.
“Yang paling berkesan adalah bisa membantu orang lain. Saya merasa seperti menemukan dua orang tua baru di sana,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca.
Ia juga mengapresiasi pelayanan yang diberikan panitia dan petugas, yang membuat seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar dan nyaman.
Ketulusan Yuni tak luput dari perhatian Ketua Rombongan Kloter 9 Rinaldi Bahar. “Ibu Yuni luar biasa. Ia melayani para lansia dengan sepenuh hati, persis seperti merawat keluarga sendiri,” puji Rinaldi.
Kini Yuni telah kembali ke Solok, rutinitas sebagai petani menanti kembali. Namun, ia pulang membawa lebih dari sekadar oleh-oleh barang. Ia membawa kenangan indah dan pelajaran berharga: bahwa di Baitullah, selain menunaikan rukun Islam, melayani sesama dengan tulus adalah ladang pahala yang tak ternilai.
Baginya, haji tahun ini bukan sekadar perjalanan menuju Baitullah. Ia adalah bukti nyata bahwa mengabdi kepada orang lain adalah bentuk ibadah yang juga mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.(*)
Apa Reaksi Anda?