KSMN UNISMA Turut Menjaga Kesucian Pura di Tengah Kabut Tengger

Suasana khidmat menyelimuti kawasan Pura Sabta Kumba Nala ketika masyarakat Hindu Tengger melaksanakan rangkaian upacara suci mulai dari Mandak Tirta

Maret 13, 2026 - 14:30
KSMN UNISMA Turut Menjaga Kesucian Pura di Tengah Kabut Tengger

MALANG Suasana khidmat menyelimuti kawasan Pura Sabta Kumba Nala ketika masyarakat Hindu Tengger melaksanakan rangkaian upacara suci mulai dari Mandak Tirta, Melasti hingga puncak acara Piodalan. Rangkaian upacara sakral tersebut menjadi bagian penting dalam tradisi spiritual masyarakat di Desa Keduwung Kab. Pasuruan, sekaligus menjadi momentum pelaksanaan Piodalan ke-15 di pura tersebut.

Kegiatan ini juga mendapat pendampingan dari mahasiswa KSMN Universitas Islam Malang (UNISMA) yang sedang melaksanakan pengabdian masyarakat di desa tersebut. Kehadiran mahasiswa tidak hanya untuk membantu dokumentasi kegiatan, tetapi juga untuk mempelajari secara langsung nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat Hindu Tengger.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Mandak Tirta, yaitu prosesi pengambilan air suci yang dilakukan sebelum upacara Melasti. Dalam prosesi ini, para pemangku, pengurus pura, sesepuh desa, pemerintah desa, pecalang, serta masyarakat Keduwung bersama-sama mengambil air suci dari beberapa titik sumber yang dianggap sakral. Sumber tersebut meliputi kawasan Gunung Pundi, Bukit Widodaren, Pura Putih Luhur Bromo, serta Sumber Sanga.

Air suci yang diperoleh dari berbagai sumber tersebut kemudian digunakan dalam rangkaian upacara selanjutnya sebagai simbol kesucian dan penyucian alam maupun manusia.

Prosesi berikutnya adalah Melasti yang dilaksanakan pada 2 Maret 2026. Dalam tradisi Hindu Tengger, Melasti merupakan upacara pengambilan tirta suci di sumber air yang dianggap paling tua di desa, yaitu Banyu Tuwek atau yang dikenal sebagai Sumber Agung. Air suci tersebut nantinya digunakan untuk menyucikan pura dan berbagai sarana upacara dalam pelaksanaan Piodalan.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI https://unisma.ac.id/

Menurut tokoh masyarakat sekaligus pemangku adat, Ponito, upacara Melasti memiliki makna penting bagi masyarakat Hindu Tengger.

“Melasti ini bukan hanya mengambil air suci, tetapi juga sebagai simbol penyucian diri, alam, dan seluruh sarana upacara sebelum pelaksanaan piodalan,” ujarnya.

Puncak acara kemudian dilaksanakan pada 3 Maret 2026 melalui Piodalan, yaitu peringatan hari berdirinya atau “kelahiran kembali” pura yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Kesanga. Upacara ini berlangsung sekitar tiga hingga empat jam di area Pura Sabta Kumba Nala dan diikuti tidak hanya oleh masyarakat Keduwung, tetapi juga umat Hindu dari desa-desa sekitar.

Dalam pelaksanaannya, berbagai rangkaian upacara dilaksanakan, seperti sembahyang bersama, tari Rejang Dewa yang mengiringi jalannya upacara, serta upacara pewinten atau pensucian diri. Upacara tersebut dipimpin oleh Pandito Dukun yang berasal dari Desa Tosari, Pasuruan.

Mulyanto, salah satu tokoh Pemangku Agama, menjelaskan bahwa pewinten memiliki makna spiritual yang mendalam bagi umat Hindu Tengger.

“Pewinten adalah proses penyucian diri secara lahir dan batin. Melalui upacara ini, umat diharapkan menjadi lebih suci sebelum menjalankan berbagai kewajiban keagamaan di pura. Tidak ada pemilihan pemangku, tinggal diresmikan dan terhendak dari hatinya sendiri lalu diresmikan dengan upacara pensucian atau yang disebut sebagai pewinten ini. Setelah pensucian diresmikan oleh bapak Parisada dan Kepala Desa,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat, Dani, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi upacara keagamaan, tetapi juga memperkuat kebersamaan masyarakat.

“Setiap tahun masyarakat selalu bergotong royong menyiapkan seluruh rangkaian acara ini. Tradisi ini menjadi cara kami menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda,” tuturnya.

Bagi mahasiswa KSMN UNISMA, keterlibatan dalam kegiatan ini memberikan pengalaman langsung dalam memahami nilai budaya dan spiritual masyarakat lokal. Selain sebagai bentuk pendampingan kegiatan masyarakat, dokumentasi dan publikasi kegiatan ini juga menjadi bagian dari luaran program KSMN dalam upaya mengenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat luas.

Secara akademik, rangkaian upacara Mandak Tirta, Melasti, hingga Piodalan menunjukkan bagaimana masyarakat Hindu Tengger menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan spiritual. Nilai-nilai tersebut mencerminkan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dan tetap dijaga keberlangsungannya hingga saat ini.

Melalui kegiatan ini, diharapkan tradisi sakral masyarakat Hindu Tengger tidak hanya terus dilestarikan oleh masyarakat setempat, tetapi juga dapat dikenal lebih luas sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. (*)

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI https://unisma.ac.id/

*)Pewarta: Mahasiswa KSM-N Kelompok 56 Universitas Islam Malang (UNISMA)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow