Kisah Guru Madrasah Dapat Panggilan Haji, Biaya Pelunasan Dibantu Tetangga Kanan Kiri
Iis Kurniawati, seorang guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) asal Turen, Kabupaten Malang bisa berangkat ke tanan suci dengan bantuan para tetangga untuk biaya pelunasan.
SURABAYA - Selalu ada kisah mengharukan di balik momen puncak spiritual seorang hamba ketika hendak menunaikan ibadah rukun Islam kelima. Jika Allah sudah memberikan jalan untuk datang ke rumah-Nya, maka atas seizin-Nya pula tiada lagi penghalang menuju ke sana.
Seperti cerita Iis Kurniawati, seorang guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) asal Turen, Kabupaten Malang.
Jemaah kelompok terbang (kloter) 16 Embarkasi Haji Surabaya ini telah terbang ke Tanah Suci pada Minggu (26/4/2026) bersama sang suami, Zenurofik yang merupakan pedagang sembako.
Iis menyimpan hikmah begitu dalam jelang detik-detik keberangkatan di tengah tekanan situasi perekonomian.
"Sebenarnya kalau dari keluarga kami, haji belum menjadi tradisi, karena kami dari keluarga menengah. Tetapi kebetulan saya adalah guru, di lingkungan MIN banyak sekali pelajaran yang mengajarkan tentang pentingnya haji," kata Iis saat ditemui di Asrama Haji Sukolilo Surabaya.
Karena berada di lingkungan Islami, Iis kemudian tergerak untuk mendaftar haji pada 2012 silam. Kebetulan pada saat itu berlangsung program dana talangan haji sehingga mempermudah pendaftaran calon jemaah.
Iis terdaftar untuk keberangkatan tahun 2022. Namun karena pandemi, diundur menjadi tahun 2027. Ternyata berdasarkan data KBIH, ia dijadwalkan berangkat pada 2026.
Kondisi tersebut tentu di luar dugaan. Persiapan keuangan untuk pelunasan haji yang mepet membuatnya kelabakan. Belum lagi, bersamaan dengan biaya kuliah anaknya yang lolos seleksi nasional masuk perguruan tinggi.
Dengan menahan Isak tangis, Iis bercerita bahwasanya tak pernah menyangka jika kemudian benar-benar bisa berangkat ke Baitullah.
"Kalau orang cerita haji adalah panggilan, saya merasakan banget. Kalau kita sudah dipanggil tahun 2026, Insya Allah memang Allah mengetahui kita bisa berangkat di tahun 2026. Padahal, saat itu kita nggak ada dana sama sekali," kata Iis seraya menitikkan air mata.
Gaji pegawai negeri sipil yang sekadar cukup untuk kebutuhan sehari-hari biaya anak-anaknya, dan hasil jualan sembako untuk menopang rumah tangga, belum cukup menutup biaya pelunasan haji. Itu di luar rangkaian biaya lain seperti mengurus dokumen, hingga anggaran tasyakuran dan belanja oleh-oleh. Perkiraan kebutuhan dana mencapai lebih dari Rp100 juta.
"Kalau dipikir-pikir, nggak mungkin ada dana sebesar itu untuk kita berangkat, tapi kita bismillah karena udah dipanggil, kita yakin Allah nanti membantu," ucapnya.
Pada saat hari terakhir pelunasan, Iis dan suami masih kurang uang Rp10 juta. Ia pasrah pada takdir dan hanya mampu berdoa.
Tiba-tiba saja, ada seorang teman yang mendengar informasi tentang keberangkatannya. Kawan tersebut menghubungi Iis dan menawarkan bantuan secara mengejutkan. Nilai yang diberikan pun pas sepuluh juta rupiah sebagaimana kebutuhan biaya pelunasan haji.
"Kita kaget, padahal kita nggak sambat (mengeluh). Kita sambatnya pada Allah, tiba-tiba dia datang ada uang yang nggak dipakai, menawarkan kalau mau dipakai silakan," kata Iis.
Di sisi lain, tradisi warga tempat tinggal Iis di Pantai Sendang Biru Turen, memang sangat gemar menolong tetangga yang berangkat haji.
Jika mereka memiliki uang, maka tak segan-segan untuk meminjamkan maupun memberikan secara cuma-cuma. Mereka percaya, bantuan itu pula suatu saat yang akan mengantarkan pemberinya ke Tanah Suci.
"Sehingga mereka berlomba-lomba untuk membantu," tuturnya.
Iis dan suami hanya mampu tertegun melihat keajaiban tersebut. Dari kesunyian doa menembus langit, dan Allah membuka jalan menggerakkan hati manusia lain untuk memberikan pertolongan.
"Ini benar-benar perjalanan spiritual kami, bukan hanya sekadar punya uang, bukan seperti itu. Ini benar-benar perjalanan spiritual," katanya.
Setelah biaya pelunasan selesai, Iis masih harus dihadapkan pada kebutuhan lain, yakni anaknya yang lolos seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri jalur prestasi di Poltekkes.
Ada biaya tambahan yang harus dipenuhi dalam waktu lima hari. Meskipun nominalnya tidak seberapa, tetapi uang Iis sudah terserap pada biaya haji.
"Dana itu sudah terserap ke berbagai macam untuk tasyakuran dan lain-lain. Di ujung terakhir kita harus bayar, saat magrib itu kita masih punya uang dua juta rupiah, padahal daftar ulangnya tujuh juta rupiah," ujarnya.
Tiba-tiba saja, ada seorang tetangga yang terlalu dikenal dan bahkan tidak akrab datang ke rumah Iis. Biasanya, tetangga tersebut sekadar datang ke toko untuk belanja sembako.
"Dia datang ke rumah, dan memang kebetulan pernah melaksanakan umrah. Jadi dia tahu bagaimana ujiannya orang mau pergi haji atau umrah, kalau nggak ujian keluarga, ya, ujian ekonomi," kata Iis.
"Tiba-tiba tetangga ini datang ke rumah ngasih nasehat-nasehat, apapun ujiannya kalau orang mau pergi haji, ikhlaskan. Legowo, orang bilang apapun, legowo. Lisan manusia yang mengarahkan Allah, orang bersikap nggak enak yang mengarahkan juga Allah. Kalau kita ikhlas, Insya Allah rejeki kita akan gampang," ujar Iis menirukan ucapan tetangganya tersebut.
Dalam suasana galau, Iis pun menuruti nasehat itu. Ia seketika dalam hati memaafkan semua orang yang pernah menyakitinya, memasrahkan semua urusan pada Allah semata.
"Saya berusaha legowo, saya harus ikhlas. Setelah orang itu memberikan nasehat, terakhirnya dia bilang begini. 'Mbak, aku Iki duwe duit limolas juta, nggak ku pakai. Sampean gawe a?' (Mbak, saya punya lima belas juta, tidak saya gunakan. Mau dipakai dulu?)," kata Iis.
Tetangga tersebut mencoba menawarkan pinjaman uang sebesar Rp15 juta untuk dipakai Iis berangkat haji. Katanya, uang itu tidak dipakai. Masya Allah. Iis lagi-lagi tak kuasa menahan air mata. Malah orang itu pada akhirnya memberikan pinjaman Rp20 juta.
"Saya kemudian tanya dikembalikan kapan? Jawabnya terserah. Dan uang itu masih bau uang orang desa yang disimpan di bawah kasur. Dia mengumpulkan itu beberapa tahun. Karena dia tahu perjuangan orang mau haji atau mau umrah, dipinjamkan semua dua puluh juta," ujar Iis.
Seolah beban yang menumpuk di punggungnya runtuh seketika, Iis langsung sujud syukur pada saat itu juga.
"Saya yakin itu semua memang dari Allah," ucap Iis yang mengaku hanya melakukan amalan istiqomah untuk setiap kalimat dzikir yang terucap dari lisannya.(*)
Apa Reaksi Anda?