Kartini Era Digital: Ketua TP PKK Surabaya Beberkan Strategi Hadapi FOMO dan Keseimbangan Keluarga

Ketua TP PKK Surabaya Rini Indriyani membagikan refleksi Hari Kartini mengenai tantangan perempuan di era digital, pola asuh anak, hingga pentingnya kesehatan mental dalam keluarga.

April 20, 2026 - 18:58
Kartini Era Digital: Ketua TP PKK Surabaya Beberkan Strategi Hadapi FOMO dan Keseimbangan Keluarga

SURABAYA - Sinergi antara Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dan TP PKK Surabaya terus diperkuat guna menjawab tantangan baru perempuan di era digital. Pergeseran makna emansipasi kini kian terasa, di mana tantangan utama beralih pada upaya menjaga keseimbangan antara peran publik dan tanggung jawab domestik.

Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani, memaknai peringatan Hari Kartini sebagai momentum refleksi atas perubahan peran perempuan modern. Menurutnya, jika dahulu perjuangan identik dengan membuka akses pendidikan, kini perempuan harus mampu mengelola peluang di tengah dunia yang serba terbuka.

“Perjuangan Kartini hari ini bukan lagi soal membuka akses, tetapi bagaimana memanfaatkan peluang tanpa kehilangan peran di dalam keluarga,” ujar Rini Indriyani, Senin (20/4/2026).

Istri Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi ini menekankan bahwa keseimbangan adalah kunci. Perempuan dituntut mampu memainkan dua peran sekaligus: sebagai individu yang berkembang secara profesional dan sebagai pilar strategis dalam keluarga.

Tantangan Pola Asuh di Era Digital

Tantangan tersebut semakin nyata seiring masifnya penggunaan teknologi. Rini menyebut ruang tumbuh anak kini meluas hingga ke dunia maya. Dalam kondisi ini, sosok ibu tidak boleh sekadar menjadi pengawas, tetapi harus hadir dalam dinamika kehidupan anak.

“Orang tua harus memahami dunia anak, termasuk apa yang mereka akses melalui gawai. Teknologi bisa membawa manfaat besar, tapi juga berisiko jika tidak diarahkan,” jelas perempuan yang akrab disapa Bunda Rini tersebut.

Ia menegaskan, perempuan berperan sebagai "tameng" yang mengarahkan penggunaan teknologi secara bijak. Pola komunikasi satu arah pun dinilai sudah tidak relevan untuk menghadapi generasi saat ini yang lebih ekspresif.

“Ibu hari ini harus bisa menjadi teman bagi anak. Anak perlu ruang untuk didengar, bukan sekadar diatur. Namun tetap ada batasan melalui pola tarik ulur agar arahnya tidak melenceng,” tambahnya.

Kesehatan Mental dan Fenomena FOMO

Selain pola asuh, Rini menyoroti fenomena FOMO (fear of missing out) atau ketakutan tertinggal tren yang kerap melanda generasi muda. Ia berpesan agar setiap individu fokus pada potensi diri sendiri daripada memaksakan diri mengikuti orang lain.

Isu kesehatan mental juga menjadi perhatian serius TP PKK Surabaya. Rini menilai stabilitas emosi seorang ibu merupakan fondasi utama dalam membangun ketahanan keluarga.

“Ibu adalah penopang keluarga. Kalau ibu sehat dan bahagia, keluarga juga akan ikut sehat,” tegasnya.

Sinergi Program SOTH dan Kemangi

Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, Pemkot Surabaya bersama TP PKK menggencarkan berbagai program edukasi. Di antaranya adalah Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) untuk pola asuh anak usia dini, serta program Kemangi (Kelas Remaja, Orang Tua Tangguh, Kreatif, dan Mandiri) untuk pendampingan remaja.

Seluruh program ini diarahkan agar perempuan Surabaya tetap adaptif namun memiliki jati diri yang kuat. Di akhir keterangannya, Rini menyebut ada tiga pilar utama yang harus dimiliki Kartini masa kini.

“Kemampuan teknologi, kekuatan mental, dan empati. Jika tiga hal itu dimiliki, perempuan tidak hanya melanjutkan perjuangan Kartini, tetapi juga menciptakan masa depan,” pungkasnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow