Jelang Lebaran, Ziarah Kubur Jadi Momentum Mendoakan Leluhur dan Introspeksi

Ziarah kubur tidak hanya mempertahankan hubungan emosional dengan leluhur, tetapi juga berfungsi sebagai pengingat spiritual bagi peziarah. Aktivitas ini dianggap memperkuat kesadaran akan kematian da

Maret 15, 2026 - 09:30
Jelang Lebaran, Ziarah Kubur Jadi Momentum Mendoakan Leluhur dan Introspeksi

JAKARTA Menjelang Idul Fitri 1447 H, tradisi nyekar atau ziarah kubur mulai ramai dilakukan oleh umat Muslim di berbagai Tempat Pemakaman Umum (TPU) di seluruh Indonesia. Aktivitas ini menjadi momen penting untuk mendoakan leluhur sebelum merayakan hari kemenangan.

Tradisi nyekar ini tidak hanya menjadi momen silaturahmi dengan leluhur, tetapi juga sarana mengingat kematian dan memperkuat kesalehan spiritual, sesuai panduan empat lembaga keagamaan utama di Indonesia.

Salah satu peziarah yang terlihat menyambangi makam orang tuanya di Jakarta Utara adalah Herlina, 52 tahun. Bersama keluarga, ia memanfaatkan momentum menjelang Lebaran untuk mendoakan almarhum.

"Setiap tahun menjelang Idul Fitri, saya dan keluarga selalu menyempatkan diri berziarah ke makam bapak. Selain mendoakan beliau, ziarah membuat kami lebih introspektif, mengingat betapa singkatnya hidup dan pentingnya berbuat baik," kata Herlina.

Ia menambahkan bahwa kegiatan sederhana seperti membersihkan makam dan membaca doa bersama keluarga memberikan rasa kedekatan dan ketenangan batin. Menurut Herlina, tradisi nyekar bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi sarana untuk memperkuat hubungan keluarga dan memperdalam kesadaran spiritual.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa ziarah kubur merupakan amalan sunnah dan wujud birrul walidain, yakni berbakti kepada orang tua yang terus memiliki pahala di dunia dan akhirat.

Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof. Dr. Asrorun Ni’am Sholeh, mengatakan, "Ziarah kubur menjadi sarana untuk mendoakan orang tua dan kerabat yang telah wafat. Doa dari anak yang saleh merupakan salah satu amalan yang pahalanya terus mengalir bagi ahli kubur."

Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (NU) menekankan dua dimensi ziarah: mendoakan mayit dan melembutkan hati peziarah melalui dzikrul maut. Menurut NU, momentum menjelang Lebaran tepat untuk menyucikan diri secara spiritual.

"Tujuan pokok dari ziarah kubur adalah untuk mendoakan ahli kubur dan bagi yang melakukan ziarah agar mengingat akan kematian sebagai nasihat bagi dirinya sendiri. Maka, ziarah harus dilakukan dengan adab yang baik, seperti mengucap salam dan tidak duduk di atas pusara," tulis redaksi NU Online.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyatakan ziarah kubur diperbolehkan sesuai hadis Nabi SAW, tetapi menekankan pemurnian niat agar praktik syirik terhindarkan. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, menekankan pentingnya mengambil pelajaran dari kehidupan orang yang telah wafat.

"Ziarah kubur diperintahkan oleh Rasulullah agar manusia ingat akan kematian. Namun, warga harus tetap waspada agar tidak mengkultuskan makam atau meminta-minta kepada orang yang sudah meninggal, karena hal itu dapat merusak tauhid," tulis pernyataan resmi di portal Muhammadiyah.or.id.

Kementerian Agama RI memfokuskan arahan pada panduan ibadah yang moderat dan tertib. Kemenag mengimbau agar tradisi ziarah tidak sekadar rutinitas sosial, tetapi meningkatkan kesalehan individu.

"Kementerian Agama mengimbau peziarah untuk tetap menjaga kebersihan makam dan mengikuti instruksi petugas di lapangan. Ziarah yang tertib mencerminkan kemuliaan ajaran Islam dalam menghargai sesama dan lingkungan," tulis rilis resmi Kemenag.go.id.

Sejumlah TPU di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung dilaporkan mengalami lonjakan pengunjung sejak awal pekan. Petugas setempat menyiapkan panduan tertib untuk menghindari kerumunan berlebihan.

Selain doa dan pembacaan Al-Qur’an, peziarah juga dianjurkan membawa perlengkapan sederhana seperti air wudhu dan sapu untuk membersihkan makam. Hal ini sejalan dengan prinsip menjaga kebersihan dan ketertiban di area TPU.

Tradisi nyekar tidak hanya mempertahankan hubungan emosional dengan leluhur, tetapi juga berfungsi sebagai pengingat spiritual bagi peziarah. Aktivitas ini dianggap memperkuat kesadaran akan kematian dan pentingnya amal baik sepanjang hidup.

Beberapa tokoh masyarakat dan ulama lokal juga mengingatkan agar ziarah tetap mengikuti adab, tidak melakukan perbuatan yang berlebihan, dan menjaga ketertiban agar tradisi tetap positif dan bermakna.

Dengan pengawasan dari petugas TPU dan panduan lembaga keagamaan, masyarakat diharapkan dapat menjalankan ziarah kubur secara aman, tertib, dan sesuai ajaran Islam menjelang Idul Fitri. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow