Jelang Lebaran 2026, Sleman Perkuat Layanan Kesehatan, Wisata, dan Stabilitas Harga Bahan Pokok
Pemkab Sleman siap hadapi Lebaran, layanan kesehatan 24 jam, destinasi wisata, dan bahan pokok terkendali.
SLEMAN Menjelang libur Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, Pemerintah Kabupaten Sleman memastikan kesiapan berbagai sektor pelayanan publik. Mulai dari layanan kesehatan yang tetap siaga, pengelolaan destinasi wisata, hingga ketersediaan bahan pokok yang dipastikan aman bagi masyarakat selama masa mudik dan liburan Lebaran.
Hal tersebut disampaikan dalam Jumpa Pers bertema “Lebaran Nyaman di Sleman: Wisata Siap, Layanan Kesehatan Siaga, Harga dan Pasokan Terkendali, Zakat Tepat Sasaran” yang digelar di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Selasa (10/3/2026).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dr. Cahya Purnama, M.Kes mengatakan pihaknya telah menyiapkan layanan kesehatan selama masa libur Lebaran untuk mengantisipasi peningkatan mobilitas masyarakat.
Puskesmas rawat inap akan tetap memberikan pelayanan 24 jam, sementara puskesmas non rawat inap tetap membuka layanan pada jam operasional tertentu.
“Puskesmas rawat inap akan tetap melayani selama 24 jam, sedangkan puskesmas non rawat inap membuka pelayanan dari pukul 07.30 sampai 19.00 selama masa libur Lebaran,” ujar Cahya.
Selain itu, Dinas Kesehatan juga menyiapkan layanan Public Safety Center (PSC) untuk kondisi darurat yang bisa dihubungi masyarakat. “Jika terjadi kegawatdaruratan kesehatan, masyarakat dapat menghubungi PSC di nomor 0811 2668 900,” jelasnya.
Seluruh rumah sakit di Sleman juga disiagakan untuk menangani kasus rujukan, termasuk layanan bagi ibu hamil, persalinan, serta bayi baru lahir.
Dinas Kesehatan juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyakit menular seiring meningkatnya mobilitas masyarakat.
“Kami mengimbau masyarakat tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan, menggunakan masker saat sakit, serta menjaga kebersihan lingkungan,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata Sleman, Kus Endarto, SE, M.Ec.Dev menyampaikan bahwa sektor pariwisata Sleman masih menjadi magnet bagi wisatawan domestik.
Data sementara hingga 9 Maret 2026 mencatat sekitar 955.748 pergerakan wisatawan, dengan mayoritas pengunjung berasal dari Pulau Jawa. “Sebagian besar wisatawan berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat,” kata Kus.
Destinasi yang paling banyak dikunjungi wisatawan antara lain kawasan candi yang dikelola PT TWC, Lava Tour Merapi, serta kawasan wisata Kaliurang.
Selama periode libur Lebaran 14–29 Maret 2026, jumlah wisatawan diperkirakan mencapai 250.000 hingga 400.000 kunjungan.
Wisatawan diperkirakan membelanjakan dana antara Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta, dengan lama tinggal rata-rata sekitar dua hari.
Untuk memastikan wisatawan merasa aman dan nyaman, Dinas Pariwisata Sleman juga mengeluarkan surat edaran kepada pengelola destinasi wisata dan pelaku usaha pariwisata.
Dalam edaran tersebut, pengelola diminta menerapkan standar Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability (CHSE) serta memastikan keamanan fasilitas wisata.
“Kami juga mengingatkan agar pelaku usaha pariwisata tidak menaikkan harga secara tidak wajar dan tetap memasang daftar harga secara terbuka,” ujar Kus.
Selain itu, sejumlah pertunjukan seni tradisional seperti jathilan dan kesenian rakyat akan digelar di kawasan Kaliurang selama libur Lebaran untuk menambah daya tarik wisata.
Di sisi lain, Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman, Dwi Wulandari, ST, M.Ec.Dev menegaskan bahwa pasokan bahan pokok menjelang Lebaran berada dalam kondisi aman. “Ketersediaan bahan pokok di Sleman mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga setelah Lebaran,” ujarnya.
Pemantauan harga dilakukan secara rutin di delapan pasar rakyat di Sleman. Hasil pemantauan menunjukkan sebagian besar komoditas seperti beras, gula kemasan, minyak goreng premium, dan daging sapi masih stabil.
Namun terdapat kenaikan tipis pada beberapa komoditas, seperti cabai rawit merah yang naik sekitar 5,76 persen, gula pasir curah 1,77 persen, serta minyak goreng Minyakita 1,32 persen. Sebaliknya, beberapa komoditas lain seperti cabai merah besar dan telur ayam ras justru mengalami penurunan harga.
Untuk menjaga stabilitas harga, pemerintah daerah juga menyiapkan operasi pasar gula pasir, pasar murah di sejumlah wilayah, serta pengawasan distribusi minyak goreng Minyakita.
Pemerintah Kabupaten Sleman berharap kesiapan lintas sektor tersebut dapat memberikan rasa aman bagi masyarakat sekaligus menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan selama periode libur Lebaran. (*)
Apa Reaksi Anda?