Jelajah Sejarah Singosari, Puluhan Pemuda Lintas Agama Belajar Toleransi dan Perdamaian

Sebanyak 65 pemuda lintas agama dan daerah mengikuti program Peace Heritage di Singosari, Kabupaten Malang. Melalui jelajah situs sejarah dan dialog budaya, peserta belajar toleransi, keberagaman, dan

Juni 15, 2026 - 15:01
Jelajah Sejarah Singosari, Puluhan Pemuda Lintas Agama Belajar Toleransi dan Perdamaian

MALANG - Sebanyak 65 pemuda lintas agama dan daerah mengikuti kegiatan Jelajah Sejarah dan Budaya di kawasan Singosari, Kabupaten Malang, Minggu (14/6/2026). Kegiatan yang digelar oleh Peace Leader Indonesia bersama Rumah Edukasi Creative dan Komunitas Masyarakat Adat Singhasari itu menjadi bagian dari program Peace Heritage, sebuah gerakan yang mengajak generasi muda membangun kerukunan melalui pemahaman sejarah, budaya, dan nilai-nilai perdamaian.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mengunjungi sejumlah situs bersejarah di Singosari, antara lain Pura Bhuvana Kertha, Candi Singosari, Arca Dwarapala, dan Candi Sumberawan. Selain itu, mereka juga mengikuti sesi dialog budaya dan kesetaraan gender bersama Tuswati atau yang akrab disapa Bu Tusi, pendiri sekaligus pengelola Patirtan Sumberawan.

Dalam sesi tersebut, Bu Tusi berbagi pengalaman spiritual yang mengantarkannya mendirikan ruang budaya yang selama ini dikenal sebagai tempat yang menjaga relasi lintas iman. Melalui berbagai kegiatan yang digelar di kawasan tersebut, masyarakat dari berbagai latar belakang agama dapat berinteraksi dan membangun pemahaman bersama dalam suasana yang inklusif.

Peserta yang mengikuti kegiatan berasal dari berbagai daerah, seperti Kabupaten Malang, Kota Malang, Madiun, hingga Lembata, Nusa Tenggara Timur. Mereka terdiri atas mahasiswa, pemuda lintas agama, serta samanera dan atasila dari Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) di Jawa Timur.

Ketua Peace Leader Indonesia, Redy Saputro, mengatakan kawasan Singosari memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang sangat penting untuk dikenalkan kepada generasi muda. Menurutnya, berbagai peninggalan sejarah yang masih terawat hingga saat ini menjadi bukti kejayaan masa lalu sekaligus sarana pembelajaran tentang keberagaman.

"Candi Singosari menjadi simbol kebesaran Kerajaan Singhasari, Arca Dwarapala merupakan salah satu patung penjaga terbesar di Indonesia, sementara Candi Sumberawan menjadi situs penting bagi umat Buddha dan pusat perayaan Hari Raya Waisak di Kabupaten Malang," ujarnya.

Ia menambahkan, keberadaan Pura Bhuvana Kertha di kawasan Kompleks Kertanegara Lanud Abdulrachman Saleh juga menjadi simbol harmonisasi kehidupan beragama di wilayah Singosari. Pura yang berdiri sejak tahun 1975 tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat dapat hidup berdampingan dalam keberagaman.

Menurut Redy, kombinasi situs sejarah, budaya, dan tempat ibadah dari berbagai tradisi keagamaan menjadikan Singosari sebagai laboratorium sosial yang ideal untuk mempelajari toleransi, keberagaman, dan perdamaian. Melalui interaksi langsung dengan masyarakat serta kunjungan ke berbagai situs budaya dan keagamaan, peserta diajak memahami pentingnya menghormati perbedaan dan menjaga kohesi sosial.

Program Peace Heritage sendiri dirancang sebagai ruang pembelajaran bagi pemuda dari berbagai latar belakang agama, budaya, dan identitas sosial. Melalui kunjungan lapangan, dialog lintas iman, diskusi reflektif, dan pertemuan dengan tokoh masyarakat, peserta didorong untuk membangun perspektif yang lebih inklusif terhadap keberagaman.

"Dengan memahami sejarah dan warisan budaya bangsa, generasi muda diharapkan mampu menumbuhkan kepemimpinan yang inklusif serta memiliki komitmen kuat dalam menjaga persatuan di tengah masyarakat yang majemuk," kata Redy.

Sementara itu, Koordinator Rumah Edukasi Creative Malang, Hiafid, menilai kegiatan jelajah sejarah dan budaya perlu terus dikembangkan dengan pendekatan yang kreatif agar semakin menarik minat generasi muda.

Menurutnya, sejarah dan tradisi masyarakat Indonesia menyimpan banyak pelajaran tentang perdamaian, toleransi, dan kehidupan bersama yang perlu terus diperkenalkan kepada mahasiswa dan kalangan muda.

"Kegiatan seperti ini penting untuk mengajak generasi muda belajar langsung dari sejarah dan kearifan budaya bangsa sebagai bekal membangun masa depan yang damai dan harmonis," ucapnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow