Iran Menilai Ancaman Blokade AS di Selat Hormuz Konyol dan Menggelikan
Presiden Donald Trump mengumumkan, Minggu kemarin, bahwa ia telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokir Selat Hormuz.
JAKARTA - Ancaman blokade Amerika Serikat terhadap Selat Hormuz dinilai konyol dan menggelikan oleh kubu Iran.
"Para prajurit pemberani Angkatan Laut Republik Islam Iran sedang melacak dan memantau semua pergerakan militer AS yang agresif di kawasan ini," kata Komandan Angkatan Laut Iran, Laksamana Muda Shahram Irani.
Dalam sebuah pernyataan yang dimuat media Iran, Shahram Irani mengatakan, ancaman terbaru Presiden Donald Trump yang akan memblokade Selat Hormuz sebagai 'sangat menggelikan dan tidak masuk akal'.
"Ancaman presiden AS setelah kekalahan memalukan tentaranya dalam perang ketiga yang dipaksakan itu, dengan blokade laut terhadap Iran sangat menggelikan," tegasnya.
Donald Trump mengumumkan, Minggu kemarin, bahwa ia telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokir Selat Hormuz, jalur air strategis yang dilalui sekitar 20 persen minyak dunia.
Perintah itu dikeluarkan setelah pembicaraan tingkat tinggi antara Iran dan Amerika SerikatĀ di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan.
Presiden AS juga memperingatkan bahwa kapal mana pun yang telah membayar tol kepada Iran akan dihentikan di perairan internasional.
Iran telah memberlakukan pembatasan lalu lintas melalui Selat Hormuz sejak perang agresi AS-Israel dimulai pada 28 Februari.
Angkatan Laut IRGC telah mengumumkan bahwa selat tersebut 'tidak akan pernah kembali ke keadaan semula, terutama bagi AS dan Israel'.
Iran mengizinkan kapal-kapal yang melayani negara-negara sahabat untuk lewat, dan melarang kapal-kapal yang berafiliasi dengan negara-negara agresor dan para pendukungnya.
Parlemen Iran telah memajukan rancangan undang-undang untuk memberlakukan biaya transit dalam mata uang nasional dan secara eksplisit melarang kapal-kapal AS dan Israel.
Angkatan bersenjata Iran telah meluncurkan ratusan rudal balistik dan hipersonik, serta drone, terhadap pangkalan-pangkalan Amerika di seluruh Asia Barat dan posisi Israel di wilayah pendudukan.
Ancaman blokade AS muncul hanya beberapa jam setelah negosiasi maraton antara Iran dan Amerika Serikat di ibu kota Pakistan, Islamabad berakhir tanpa terobosan.
Wakil Presiden AS JD Vance, yang memimpin delegasi Amerika mengatakan, setelah sesi selama 20 jam tersebut bahwa sekarang terserah Iran untuk menerima tawaran 'terakhir dan terbaik' dari Amerika Serikat.
Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, bahwa AS telah menunjukkan 'maksimalisme, perubahan persyaratan dan blokade' ketika kesepakatan sudah di depan mata.
"Tidak ada pelajaran yang dipetik," tulis Araghchi di media sosial, yang menyiratkan bahwa Amerika Serikat tidak belajar apa pun dari konfrontasi yang gagal dengan Iran.
Iran telah berulang kali menyatakan bahwa mereka tidak akan membiarkan AS atau Israel mendikte persyaratan pemanfaatab Selat Hormuz, yang terletak di dalam perairan teritorialnya.
Paus pun Ditentang
Sementara itu Presiden AS Donald Trump mengatakan melalui platformnya 'Truth Social' bahwa dia tidak menginginkan seorang Paus yang berpikir bahwa kepemilikan senjata nuklir oleh Iran adalah hal yang wajar.
Pernyataan Trump ini muncul beberapa hari setelah Paus Leo XIV mengkritik apa yang disebutnya sebagai 'ilusi kekuasaan absolut' yang memicu perang AS-Israel terhadap Iran.
Dalam doa bersama untuk perdamaian di dunia yang dipimpin Paus Leo XIV, Paus menyerukan kepada para pemimpin negara untuk berhenti dan duduk di meja dialog dan mediasi, 'bukan di meja tempat persenjataan ulang direncanakan dan tindakan mematikan diputuskan!'
Ia juga menegaskan bahwa Gereja akan selalu maju dalam menyerukan perdamaian 'bahkan ketika menolak logika perang dapat menyebabkan kesalahpahaman dan penghinaan', dan akan selalu menanamkan 'ketaatan kepada Tuhan daripada otoritas manusia mana pun'.
"Saya menerima banyak sekali surat dari anak-anak di daerah konflik. Saat membacanya, melalui kacamata kepolosan, kita bisa melihat semua kengerian dan ketidakmanusiaan dari tindakan yang dibanggakan oleh sebagian orang dewasa," ujar Paus.
Paus Leo XIV menyampaikan pengingat yang mengerikan ini selama Doa Malam untuk Perdamaian yang dipimpinnya, Sabtu malam lalu di Vatikan, sambil mendesak, "Mari kita dengarkan suara anak-anak!"
Namun Amerika Serikat yang dipimpin Presiden Donald Trump masih 'berambisi' dengan ancamannya termasuk terakhir blokade terhadap Selat Hormuz, meski kemudian Iran menilainya konyol dan menggelikan. (*)
Apa Reaksi Anda?