Es Selendang Mayang, Takjil Langka yang Muncul di Tengah Tren Minuman Kekinian

Es selendang mayang, minuman tradisional yang kembali muncul di bulan ramadan.

Februari 28, 2026 - 16:30
Es Selendang Mayang, Takjil Langka yang Muncul di Tengah Tren Minuman Kekinian

MALANG Sore Ramadan di Pasar Takjil Sawojajar, Kota Malang, selalu dipadati pemburu takjil. Deretan minuman kekinian, es buah, hingga aneka jajanan manis berjajar menawarkan kesegaran untuk berbuka. Namun di antaranya terdapat satu minuman berwarna mencolok yang membuat orang melambatkan langkah.

Ungu, merah, dan hijau tersaji berlapis dalam gelas transparan. Teksturnya kenyal, tampilannya sederhana tetapi berbeda. Namanya Es Selendang Mayang MJS (Makmur Jaya Selamanya).

Minuman tradisional yang kini jarang ditemukan itu dikelola oleh Dion, yang mulai berjualan setiap pukul 14.30 hingga 18.00 WIB selama Ramadan. Ia sengaja memilih selendang mayang sebagai produk utama karena melihat peluang yang belum banyak digarap di Malang.

“Di Malang hampir tidak ada yang jual es selendang mayang. Itu yang bikin orang penasaran,” ujar Dion Sabtu (28/2/2026).

Ikonik dari Selendang Mayang

Secara rasa, sebagian orang membandingkannya dengan es teler. Namun Dion menegaskan, perbedaannya terletak pada komponen utama: selendang mayang.

Pasar-Takjil-Sawojajar-2.jpgEs selendang mayang tampil sederhana namun ikonik, menawarkan pengalaman rasa tradisional dengan harga terjangkau bagi pemburu takjil Ramadan. (FOTO: Lusia Dian Finnadi/TIMES Indonesia)

Selendang mayang merupakan olahan tepung beras yang dimasak dengan takaran presisi hingga menghasilkan tekstur kenyal dan lembut. Adonan tersebut dicetak berlapis warna, lalu dipotong sebelum disajikan bersama sirup dan es batu.

“Yang paling penting justru selendang mayangnya. Takarannya harus pas. Rasanya tidak boleh terlalu manis atau hambar,” jelasnya.

Tekstur ini yang menjadi identitas utama minuman tersebut. Saat disendok, potongan selendang mayang tetap padat, tidak mudah hancur, namun lembut di lidah. Sensasi kenyal inilah yang membedakannya dari minuman es pada umumnya.

Varian Lengkap dengan Harga Terjangkau

Es Selendang Mayang MJS hadir dalam beberapa pilihan. Varian Original dijual Rp12.000. Untuk pilihan lebih kaya rasa, tersedia Mayang Nangka dan Mayang Alpukat seharga Rp15.000. Sementara varian Mix, yang memadukan beberapa isian sekaligus, dibanderol Rp17.000.

Harga tersebut tergolong terjangkau, terutama untuk minuman tradisional yang proses pembuatannya tidak instan dan kini jarang ditemukan di Jawa Timur.

“Nilai jual utama kami memang di keunikan. Ini belum ada di Malang, apalagi di Jawa Timur,” kata Dion.

Dikenal dari Media Sosial, Lahirkan Pelanggan Setia

Keunikan tampilan dan rasa membuat Es Selendang Mayang MJS cepat dikenal. Banyak pembeli mengetahui produk ini dari media sosial. Bahkan, menurut Dion, tidak sedikit pelanggan yang kembali membeli secara rutin.

Pasar-Takjil-Sawojajar-3.jpgStan Es Selendang Mayang MJS (Makmur Jaya Selamanya) melayani pembeli saat jam penjualan sore hari, menghadirkan minuman tradisional yang kini kembali diminati di tengah tren minuman kekinian. (FOTO: Lusia Dian Finnadi/TIMES Indonesia)

“Ada pembeli yang repeat order sampai dua hari sekali,” ujarnya.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa minuman tradisional tetap memiliki ruang di tengah persaingan kuliner modern, selama kualitas dan konsistensi rasa terjaga.

Optimistis Bertahan dengan Inovasi

Di tengah gempuran minuman kekinian yang silih berganti tren, Dion optimistis Es Selendang Mayang akan tetap bertahan.

“Es selendang mayang ini akan bertahan. Ke depannya kami ingin berinovasi lebih lagi, seperti penambahan topping es krim dan isian lainnya. Tapi tetap tidak meninggalkan identitas selendang mayangnya,” tegasnya.

Bagi Dion, inovasi bukan berarti menghilangkan tradisi. Justru sebaliknya, selendang mayang harus tetap menjadi inti rasa, sementara pengembangan dilakukan untuk menyesuaikan selera pasar.

Di antara hiruk pikuk Pasar Takjil Sawojajar, Es Selendang Mayang MJS hadir sebagai alternatif takjil yang berbeda, terjangkau, dan berkarakter. Sebuah pilihan bagi mereka yang ingin merasakan kesegaran dengan sentuhan tradisional sebelum azan magrib berkumandang. (*)

Pewarta: Lusia Dian Finnadi

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow