Bupati Malang: Kearifan Lokal Jadi Kunci Hadapi Tantangan Global dan Perkuat Daya Saing Daerah
Bupati Malang HM Sanusi menilai kearifan lokal tetap menjadi modal penting dalam membangun kepemimpinan yang adaptif sekaligus memperkuat daya saing daerah.
MALANG - Bupati Malang HM Sanusi menilai kearifan lokal tetap menjadi modal penting dalam membangun kepemimpinan yang adaptif sekaligus memperkuat daya saing daerah. Pandangan tersebut dia sampaikan saat menerima peserta Visitasi Kepemimpinan Nasional (VKN) Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan VIII Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta di Ruang Rapat Anusapati, Selasa (9/6/2026).
Menurut Sanusi, tantangan pembangunan saat ini menuntut hadirnya pemimpin yang mampu membaca perubahan dengan cepat tanpa kehilangan akar budaya dan identitas daerah.
"Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, mulai dari perubahan teknologi, tantangan ekonomi, perubahan iklim hingga ketidakpastian geopolitik, daerah dituntut memiliki pemimpin yang tidak hanya mampu merespons perubahan, tetapi juga mampu mengantisipasi dan mengelolanya menjadi peluang pembangunan," ujar Sanusi.
Ia menegaskan, konsep kepemimpinan adaptif tidak berarti meninggalkan nilai-nilai yang telah hidup di tengah masyarakat. Sebaliknya, kemampuan beradaptasi justru harus bertumpu pada kearifan lokal yang selama ini menjadi kekuatan sosial masyarakat.
"Kepemimpinan adaptif bukan berarti meninggalkan jati diri daerah. Justru sebaliknya, kemampuan beradaptasi harus berakar kuat pada nilai-nilai lokal yang telah terbukti menjadi perekat sosial dan sumber kekuatan masyarakat," katanya.
Menurut Sanusi, nilai-nilai seperti gotong royong, musyawarah, integritas, kebersamaan, dan kepedulian sosial masih sangat relevan dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan saat ini.
Ia mencontohkan, di Kabupaten Malang nilai-nilai tersebut terlihat dalam berbagai sektor. Pada sektor pertanian, semangat kebersamaan para petani menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Sementara di sektor pariwisata, pelestarian budaya dan tradisi lokal justru menjadi daya tarik yang memperkuat daya saing destinasi wisata.
Tak hanya itu, dalam tata kelola pemerintahan, Pemkab Malang terus mendorong kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media untuk menghasilkan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
"Kami meyakini bahwa kontribusi daerah terhadap ketahanan nasional tidak hanya diukur dari besarnya anggaran atau luas wilayah, tetapi juga dari kemampuan daerah menciptakan stabilitas sosial, ketahanan ekonomi, kualitas pelayanan publik, serta daya saing sumber daya manusia," jelasnya.
Sanusi menilai pemimpin birokrasi masa kini harus memiliki kemampuan menetapkan prioritas, membangun kolaborasi, serta menghadirkan solusi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata.
Karena itu, ia berharap proses pembelajaran kepemimpinan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung di lapangan.
"Jadikan setiap pengalaman lapangan sebagai laboratorium kepemimpinan. Karena sejatinya, pemimpin yang hebat tidak hanya lahir dari ruang kelas, tetapi juga dari kemampuan memahami realitas masyarakat dan menghadirkan solusi yang bermanfaat," tegasnya.
Menurutnya, pendekatan kepemimpinan yang adaptif dan berakar pada nilai-nilai lokal menjadi salah satu kunci agar daerah mampu memperkuat ketahanan, meningkatkan daya saing, sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat. (*)
Apa Reaksi Anda?