Buka Pintu untuk Generasi Pesantren, 72 Santri Hafidz Quran Siap Kuliah di UWG Malang
Universitas Widya Gama (UWG) Malang kian menegaskan posisinya sebagai magnet baru pendidikan tinggi berbasis nilai keislaman dan kewirausahaan.
MALANG - Universitas Widya Gama (UWG) Malang kian menegaskan posisinya sebagai magnet baru pendidikan tinggi berbasis nilai keislaman dan kewirausahaan. Hal itu tampak saat kampus tersebut menerima kunjungan studi banding dari Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep di Auditorium Lantai 4 Kampus 2 UWG Malang, Selasa (5/5/2026).
Tak tanggung-tanggung, sebanyak 72 santri hafidz Al-Qur’an hadir langsung dalam agenda silaturahmi akademik tersebut untuk mengenal lebih dekat dunia perkuliahan di salah satu perguruan tinggi swasta unggulan di Malang Raya itu.
Mewakili Rektor UWG Malang, Wakil Rektor II Dr. Ir. Riman, MT. menegaskan bahwa UWG membuka pintu selebar-lebarnya bagi generasi pesantren yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi dengan fondasi akademik, moral, dan spiritual yang kuat.
“UWG memiliki Pola Ilmiah Pokok berbasis Keindonesiaan, Keislaman, dan Kewirausahaan. Kami membangun generasi unggulan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab,” tegasnya.
Ia menjelaskan, nilai keislaman di UWG diterapkan secara konkret melalui kurikulum keagamaan yang diajarkan dosen-dosen kompeten, sehingga mahasiswa tidak hanya mengejar prestasi akademik tetapi juga penguatan karakter spiritual.
Selain itu, UWG yang berdiri sejak 1971 kini telah berkembang menjadi kampus besar dengan 5 fakultas, 16 program studi, dan program Pascasarjana, menjadikannya salah satu kampus swasta paling berkembang di wilayah Malang.
“Semua santri Al-Amien memiliki peluang besar masuk ke berbagai jurusan di UWG. Kami siap menyambut mereka di seluruh program studi yang tersedia,” lanjutnya.
Sementara itu, Mudir Ma’had lil Banin Ma’had Tahfidz Al-Qur’an PP Al-Amien Prenduan, Ust. Siddiq Mustaqim, Lc., M.Pd., menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan langkah strategis untuk memperkenalkan dunia kampus kepada para santri sejak dini.
“Kami ingin santri-santri kami mengenal lebih dekat kehidupan akademik perguruan tinggi, khususnya di UWG, agar mereka memiliki orientasi pendidikan yang lebih luas dan matang,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan fakta membanggakan bahwa 72 santri yang hadir seluruhnya merupakan hafidz Al-Qur’an, menandakan kualitas unggul kader pesantren yang tengah dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan.
Namun, menurutnya, lulusan Al-Amien tidak serta-merta langsung kuliah setelah tamat.
“Tradisi kami, lulusan harus mengabdi selama satu tahun di pesantren sebelum melanjutkan studi. Ini bagian dari pendidikan karakter dan penguatan pengabdian,” jelasnya.
Pertemuan ini bukan sekadar kunjungan biasa, tetapi menjadi simbol semakin eratnya hubungan antara dunia pesantren dan perguruan tinggi modern dalam mencetak generasi muslim intelektual yang siap bersaing di era global. (*)
Apa Reaksi Anda?