Belajar Layaknya Tim Produksi Profesional, Tim Film MTsN 9 Jombang Tumbuhkan Kreativitas, Kerja Sama, dan Percaya Diri Siswa

MTsN 9 Jombang kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan potensi siswa melalui program ekstrakurikuler unggulan Cinemaphotography.

Maret 5, 2026 - 17:00
Belajar Layaknya Tim Produksi Profesional, Tim Film MTsN 9 Jombang Tumbuhkan Kreativitas, Kerja Sama, dan Percaya Diri Siswa

JOMBANG MTsN 9 Jombang kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan potensi siswa melalui program ekstrakurikuler unggulan Cinemaphotography. Kegiatan ini menjadi wadah strategis bagi siswa yang memiliki minat dan bakat di bidang perfilman serta produksi video kreatif.

Tidak sekadar membuat film, ekstrakurikuler ini menjadi ruang belajar yang mendorong siswa mengekspresikan ide, gagasan, hingga pesan moral melalui karya audio visual yang inspiratif. Melalui proses yang terstruktur, siswa belajar bahwa sebuah film lahir dari kolaborasi dan tanggung jawab bersama.

Belajar Produksi Film Secara Profesional Sejak Dini

Pembina ekstrakurikuler Cinemaphotography menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang kolaborasi yang memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk berkembang sesuai minat dan bakatnya.

“Anak-anak belajar bekerja sama dalam satu tim untuk menghasilkan film atau konten kreatif. Mereka berkontribusi sesuai keahlian masing-masing. Misalnya, Haqqi memiliki ketertarikan di dunia fotografi, maka saya arahkan menjadi kameramen. Ada juga Nisa dari kelas 9A yang gemar menulis fiksi, sehingga ekstrakurikuler ini menjadi wadah yang tepat untuk menyalurkan bakatnya dalam penulisan naskah,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan tersebut membuat siswa merasa dihargai dan lebih percaya diri dalam berkarya.

Ia juga menambahkan bahwa di era digital saat ini, siswa sangat dekat dengan dunia media sosial dan konten visual.

“Di masa sekarang, anak-anak hampir setiap hari berinteraksi dengan media sosial dan berbagai konten video, baik film maupun video pendek. Karena itu, ekstrakurikuler ini sangat relevan dan mampu mewadahi kebutuhan serta minat mereka. Bahkan dalam prosesnya, mereka sudah bekerja layaknya tim produksi profesional dan terstruktur,” ungkapnya.

Proses produksi dilakukan secara sistematis, dimulai dari rapat perencanaan, penentuan ide cerita, penulisan naskah, pembuatan storyboard, pemilihan talent, hingga penentuan lokasi shooting. Saat produksi berlangsung, tim juga menyiapkan wardrobe dengan matang serta mengondisikan lokasi agar proses pengambilan gambar berjalan lancar.

“Semua dijalankan dengan disiplin. Anak-anak belajar bahwa karya yang baik lahir dari proses yang tertata,” tambahnya.

MTs-9-Jombang.jpg

Dari Teori ke Praktik Lapangan: Simulasi Produksi Film Sesungguhnya

Setelah memahami teori dasar perfilman, teknik pengambilan gambar, serta penggunaan kamera yang benar, siswa langsung memasuki tahap praktik yang dirancang menyerupai proses produksi film profesional.

Proses dimulai dari rapat pra-produksi, di mana seluruh tim berkumpul untuk melakukan brainstorming ide cerita. Dalam forum tersebut, siswa berdiskusi menentukan tema, pesan moral, target penonton, serta konsep visual yang akan diangkat.

Selanjutnya, tim penulis menyusun naskah (script) secara detail, lengkap dengan dialog dan alur adegan. Setelah naskah disepakati, tim melanjutkan ke tahap pembuatan storyboard, yakni menggambar rancangan setiap adegan agar pengambilan gambar lebih terarah.

Memasuki tahap persiapan teknis, kru melakukan pembagian tugas secara jelas:

  • Kameramen menyiapkan kamera dan menentukan angle
  • Tim audio memastikan kualitas suara
  • Tim lighting mengatur pencahayaan
  • Koordinator talent mengondisikan pemeran
  • Tim wardrobe dan make up menyesuaikan kostum dengan karakter

Sebelum shooting dimulai, dilakukan technical meeting (TM) singkat untuk memastikan semua kru memahami alur kerja dan urutan adegan. Setelah itu, proses pengambilan gambar dilakukan sesuai shot list yang telah disusun.

Saat shooting berlangsung, suasana dibuat profesional. Sutradara atau koordinator lapangan memberi aba-aba, kameramen mengambil gambar sesuai komposisi, audioman memastikan suara jernih, sementara kru lain menjaga ketertiban lokasi agar proses berjalan kondusif.

Setelah seluruh adegan selesai direkam, siswa melakukan evaluasi hasil shooting untuk melihat kekurangan dan menentukan apakah perlu pengambilan ulang (retake).

Melalui tahapan yang runtut tersebut, siswa memahami bahwa film bukan hanya soal hasil akhir yang menarik, tetapi tentang proses panjang yang membutuhkan perencanaan matang, kedisiplinan, komunikasi, dan kerja sama tim yang solid. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow