20 Tahun Lumpur Lapindo, IMM Jatim Ingatkan Dampak Lingkungan dan Sosial yang Belum Usai
IMM menyebut, tragedi Lumpur Lapindo tercatat sebagai salah satu bencana lingkungan terbesar di Indonesia.
SIDOARJO - Dua puluh tahun berlalu sejak semburan Lumpur Lapindo pertama kali muncul di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, pada 29 Mei 2006. Namun bagi sebagian warga, bencana itu belum benar-benar selesai.
Asap putih masih terlihat dari pusat semburan. Tanah terus mengalami penurunan. Banjir pun menjadi persoalan yang akrab dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Sidoarjo bagian timur.
Bendahara Umum DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Timur, Ilham Arrasyid, menyebut tragedi Lumpur Lapindo bukan hanya persoalan teknis pengeboran, tetapi juga peringatan tentang dampak eksploitasi alam yang tidak terkendali.
“Dua puluh tahun ini masyarakat seperti hidup berdampingan dengan rasa kehilangan. Banyak yang kehilangan rumah, pekerjaan, bahkan kampung halamannya sendiri. Kami seperti tenggelam di tanah sendiri,” kata Ilham, Kamis (29/5/2026).
Menurut dia, dampak lumpur tidak hanya dirasakan di area pusat semburan, tetapi juga meluas pada persoalan lingkungan dan sosial masyarakat. Penurunan tanah dan berkurangnya daerah resapan air disebut menjadi salah satu penyebab banjir yang kini semakin sering terjadi.
Ilham menyoroti kondisi Desa Kedungbanteng dan sejumlah wilayah di Kecamatan Tanggulangin yang dalam beberapa tahun terakhir terdampak aktivitas pengeboran baru. Sawah, tambak, hingga lahan hijau perlahan berubah fungsi dan mempersempit ruang hidup warga.
“Banyak petani dan nelayan kehilangan mata pencaharian karena lahan mereka terus tergenang air. Warga sekarang bahkan menyebut kondisi ini sebagai ‘pesta air’ karena hampir setiap hari harus hidup berdampingan dengan banjir,” ujarnya.
Ilham menilai, tragedi Lumpur Lapindo harus menjadi pelajaran penting bagi pemerintah dan industri migas agar lebih serius memperhatikan keselamatan lingkungan dan masyarakat sekitar.
Menurutnya pengawasan terhadap aktivitas pengeboran harus diperketat agar risiko kerusakan lingkungan tidak kembali terulang di masa depan.
“Jangan sampai generasi mendatang mewarisi kerusakan yang sama. Alam bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga rumah bersama yang harus dijaga,” tegasnya
"Tragedi Lumpur Lapindo tercatat sebagai salah satu bencana lingkungan terbesar di Indonesia. Di balik tanggul lumpur yang terus berdiri hingga hari ini, masih ada ribuan warga yang berusaha bertahan dan memulai hidup baru dari kehilangan panjang yang belum benar-benar usai," kata Ilham. (*)
Apa Reaksi Anda?