Waisak 2026 di Borobudur Diprediksi Jadi yang Teramai dalam Beberapa Tahun Terakhir
Perayaan Waisak 2026 di Candi Borobudur diprediksi dihadiri puluhan ribu umat Buddha dan wisatawan. Hotel hingga homestay di kawasan Borobudur mulai penuh menjelang acara puncak.
SEMARANG - Perayaan Tri Suci Waisak 2570 BE/2026 di kawasan Candi Borobudur diprediksi menjadi salah satu yang paling ramai dalam beberapa tahun terakhir. Puluhan ribu umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia diperkirakan hadir mengikuti rangkaian kegiatan hingga puncak pelepasan lampion perdamaian.
Antusiasme tersebut terlihat dari jumlah peserta yang telah mendaftar hingga pertengahan Mei 2026 yang mencapai sekitar 23 ribu orang. Jumlah itu diprediksi terus bertambah menjelang puncak Waisak pada 31 Mei 2026.
Ketua DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Jawa Tengah, Tanto Soegito Harsono, mengatakan peserta datang dari berbagai wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTB, Jakarta, Banten, hingga Jawa Tengah.
“Pendaftaran sebenarnya sudah kami tutup karena jumlahnya sudah sangat besar,” ujarnya.
Menurut Tanto, jumlah pengunjung saat pelepasan lampion biasanya melonjak signifikan. Bahkan pada hari pelaksanaan, tambahan pengunjung diperkirakan bisa mencapai hampir 10 ribu orang.
“Biasanya pada hari H masih banyak yang datang langsung. Saat pelepasan lampion bisa bertambah hampir 10 ribu orang lagi,” katanya.
Lonjakan kunjungan tersebut mulai berdampak pada sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat di kawasan Borobudur. Hotel, homestay, restoran, hingga warung makan dilaporkan mengalami peningkatan okupansi dan kunjungan menjelang Waisak.
“Sekarang cari penginapan sudah susah sekali. Dampaknya tentu besar untuk masyarakat,” ujar Tanto.
Wakil Ketua Panitia Waisak Nasional 2026, Karuna Murdaya, menyebut dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menjadi faktor penting dalam kelancaran penyelenggaraan Waisak Nasional setiap tahunnya.
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan Waisak sebenarnya telah dimulai sejak awal Mei 2026. Namun agenda utama akan berlangsung pada 23-24 Mei 2026 melalui bakti sosial kesehatan gratis di Borobudur dengan target melayani sekitar 10 ribu pasien.
Selain itu, ritual sakral tahunan juga akan digelar, mulai dari pengambilan Api Dharma di Api Abadi Mrapen pada 29 Mei hingga pengambilan Air Berkah dari Umbul Jumprit pada 30 Mei 2026.
Salah satu perhatian utama tahun ini adalah perjalanan Bhikkhu Thudong dari Bali menuju Borobudur sejauh sekitar 660 kilometer. Jumlah peserta thudong juga meningkat dibanding tahun sebelumnya.
“Tahun ini ada 60 bhikkhu yang ikut, terdiri dari 50 bhikkhu asing dan 10 lokal,” kata Karuna.
Puncak Waisak 2026 akan berlangsung pada 31 Mei 2026. Berbeda dengan tahun sebelumnya, detik-detik Waisak tahun ini jatuh pada sore hari, tepat pukul 15.44 WIB.
Prosesi dimulai sejak pagi dari Candi Mendut menuju Borobudur. Setelah detik-detik Waisak berlangsung, pelepasan lampion perdamaian akan digelar dalam dua sesi mulai pukul 18.30 WIB dan dilanjutkan pertunjukan sendratari pada malam hari.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Waisak Nasional 2026. Menurutnya, Waisak bukan hanya perayaan spiritual umat Buddha, tetapi juga simbol toleransi dan persatuan bangsa.
“Waisak menjadi simbol kuat moderasi beragama dan persatuan,” ujarnya.
Selain dihadiri ribuan umat Buddha, puncak Waisak 2026 juga dijadwalkan dihadiri sejumlah pejabat negara, di antaranya Menteri ATR/BPN Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, serta Menteri Agama Nasaruddin Umar. (*)
Apa Reaksi Anda?