Peringatan HPSN 2024, Pemkab Lombok Utara Clean Up Day di Kawasan Wisata Gili Trawangan 

Peringatan Hari Sampah Nasional (HPSN) 2024, Pemkab Lombok Utara bersama seluruh stakeholder TNI/Polri, komunitas/relawan sampah, dan masyarakat berserta wisatawan mancan ...

Februari 2, 2024 - 17:00
Peringatan HPSN 2024, Pemkab Lombok Utara Clean Up Day di Kawasan Wisata Gili Trawangan 

TIMESINDONESIA, LOMBOK UTARA – Peringatan Hari Sampah Nasional (HPSN) 2024, Pemkab Lombok Utara bersama seluruh stakeholder TNI/Polri, komunitas/relawan sampah, dan masyarakat berserta wisatawan mancanegara melaksanakan kegiatan clean up day (bersih-bersih) kawasan wisata Gili Trawangan.

Seluruh peserta clean up day begitu antusias dan bersemangat dengan membawa peralatan kebersihan yang menyusuri gang-gang yang berada di kawasan wisata strategis nasional tersebut.

clean-up-day.jpgMasyarakat Gili Trawangan bersama para pengusaha, komunitas, dan tamu mancanegara turut serta meramaikan clean up day di gang-gang jalan. (FOTO: HERY MAHARDIKA/TIMES INDONESIA)

Kegiatan clean up day 2024 langsung dikomandai oleh Wakil Bupati Lombok Utara, Danny Karter, yang dihadiri Asisten I Setda Lombok Utara, Rusdi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Lombok Utara, Rusdianto, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Utara, Dende Dewi, Kepala Dinas Perhubungan Lombok Utara, Parihin, Kepala Sat Pol PP, Toto, Polsektor Gili Indah.

“Hari ini, seluruh stakeholder mengadakan clean up day di kawasan wisata Gili Trawangan, lokasi pasnya di jalan lingkungan (gang) dan lokasi tempat pembuangan sampah sementara (TPST),” ungkap Danny Karter kepada media di lokasi tumpukan sampah, Jumat (2/2/2024).

Aksi-aksi-bersih.jpgAksi-aksi bersih di kawasan wisata Gili Trawangan. (FOTO: HERY MAHARDIKA/TIMES INDONESIA)

Kegiatan clean up day tentu dalam rangka peringatan peduli sampah nasional, sehingga momentum meningkatkan kegiatan gotong royong, dan menjadi trigger (pemicu) bagi seluruh pihak untuk berkolaborasi dalam menyelesaikan permasalahan sampah di kawasan wisata. Saat ini, katanya, berada di gunungan sampah yang sudah berpuluh-puluh tahun.

“Sekarang kita gotong royong kemudian kita hitung sampah yang dihasilkan, kedepan mudah-mudahan sampah di kawasan wisata Gili Trawangan dapat ditangani secara maksimal,” harapnya. 

Sampah harian yang berjalan di kawasan wisata Gili Trawangan, pemerintah meminta kepada para pengusaha dan masyarakat untuk melakukan pemilihan sampah dari sumbernya, mana sampah organik dan non organik dalam memilih sampah plastik dan non plastik, sehingga sampah yang bisa dikelola dan dimanfaatkan sehingga bisa menjadi nilai ekonomis. Setelah dipilah, maka sampah yang dibawa keluar dari kawasan wisata ini sudah dalam bentuk residu saja. Penanganan gunungan sampah ini masih kita pikirkan, sudah tahap demi tahap dibawa keluar.

“Kita ingin sampah ini bisa dipilah, sehingga yang dibawa keluar itu dalam bentuk residu,” tegasnya. 

Terkait lokasi pemilahan sampah sudah ada bangunan gedung besar, hanya saja belum dimaksimalkan kebermanfaatannya. Ia sendiri berharap kebersihan di kawasan wisata tiga gili menjadi percontohan meski berada di pulau kecil, tidak hanya fokus pada pengejaran mendatangkan tamu, namun sebagai kawasan wisata stragis nasional juga memikirkan persoalan sampah ini. Dibutuhkan konsep penanganan sampah yang terukur sehingga ia berharap pemerintah provinsi juga memberikan perhatian khusus dalam penanganan sampah.

“Dan pemerintah kabupaten beserta seluruh stakeholder harus bersama-sama menyelesaikan permasalahan sampah ini,” imbuhnya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Lombok Utara, Rusdianto menyampaikan, clean up day di kawasan wisata Gili Trawangan harus dimulai dari kawasan wisata sebab selama ini kerap menjadi permasalahan. Sehingga melalui clean up day dengan mengajak seluruh stakeholder hal itu menunjukan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah semata, namun perlu kolaborasi seluruh stakeholder dalam penangan sampah tersebut. “Clean Up Day ini menjadi trigger,” katanya.

Jumlah sampah harian di kawasan wisata Gili Trawangan bisa tembus 18 ton pada saat musim ramai (high session), sedangkan musim sepi bisa tembus 7 ton (low session). Oleh karena itu, perlu mengajak masyarakat dan kelompok masyarakat menjadi bagian bisa mengurangi jumlah sampah itu dari sumbernya. Dari jumlah sampah tersebut, pihaknya baru bisa mengolah 20-30 persen, tentu masih sedikit dibandingkan jumlah sampahnya.

“Kita sudah sampaikan ke kelompok masyarakat sebagai pihak ketiga penangan sampah di gili bisa meningkatkan pemilihan sampah dari sumbernya. Bila nanti kelompok masyarakat yang selama ini kita tunjuk tidak mampu, tentu bisa menambah kelompok baru,” terangnya. 

Kepala Dinas Pariwisata Lombok Utara, Dende Dewi menyampaikan, permasalahan sampah yang ada di Gili Trawangan memang menjadi atensi khususnya mengingat Gili adalah destinasi andalan, apalagi dengan adanya kebakanaran di TPST yang pengaruhnya juga dirasakan wisatawan tentu berpengaruh kepada kenyamanan tamu. Dinas Pariwisata selaku perpanjangan pemda yang lansung berintegrasi dengan stakehdoler di sektor pariwisata sangat berharap masalah ini segera tuntas walaupun membutuhkn proses jangka panjang tapi paling tidak bisa mengurai dulu persoalan jangka pendeknya.

“Intinya adalah kita ingin destinasi kita bersih aman dan nyaman wisatawan dalam menikmati indahnya Gili,” ujarnya.

Di lokasi yang sama, Relawan Sampah Trash Hero World, Sutikno Hendros mengungkapkan, para relawan sampah lebih menekankan pada edukasi penanganan sampah ini bisa terkendali dari hulunya bukan dari tumpukan sampahnya. Di sinilah, pemerintah perlu mengeluarkan surat edaran, dari beberapa hotel diajak berdiskusi sudah memilah cuma begitu diangkut numpuk menjadi satu lagi di TPST. Sampah secara umum itu hanya 30 persen, 70 persen itu bisa diolah kembali. Karena yang menjadi berat itu paling 5 kg karena plastik saja isinya, sementara pemilahan inilah yang dibutuhkan sehingga nantinya dapat pisahkan siapa pengangkut sampah dapur, siapa pengangkut sampah bagian plastik, sehingga sampah plastik bisa langsung di dermaga.

“Kalau ditumpuk begini saja maka risikonya kepada kesehatan tamu, yang terbawa angin pantai. Tingkat kesadaran perlu ditingkatkan kesadaran dari edukasi, tidak ada signifikan hasil diharapkan. Nanti harapannya pihak ketiga yang ditunjuk menyiapkan kantong-kantong sampah, sehingga hotel tidak bayar dua kali,” ungkapnya.(*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow