Menteri Haji Akui Mina Jadi Titik Kelemahan Utama Penyelenggaraan Haji
Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf, memaparkan sejumlah hasil evaluasi dan rekomendasi krusial yang dihimpun oleh tim delegasi Amirul Hajj demi perbaikan penyelenggaraan ibadah haji di ma
JAKARTA - Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf, memaparkan sejumlah hasil evaluasi dan rekomendasi krusial yang dihimpun oleh tim delegasi Amirul Hajj demi perbaikan penyelenggaraan ibadah haji di masa mendatang.
Dalam keterangannya di Bandara Soekarno-Hatta, Senin (8/6/2026), Menteri Haji didampingi oleh sejumlah tokoh yang tergabung dalam delegasi Amirul Hajj, seperti Prof. Hashimi (Muhammadiyah Sumatera Utara), Prof. Haseb (Pergunu), Syafira Rosa (MUI), Prof. Ilvi (UIN Malang), dan Prof. Harry (UI).
"Mereka bertugas untuk memastikan perjalanan para jemaah haji berjalan lancar, sekaligus memberikan masukan untuk perbaikan pelaksanaan haji ke depan. Beberapa rekomendasi yang disampaikan oleh tim Amirul Hajj, pertama adalah peningkatan layanan di Mina," katanya.
Ia mengakui secara terbuka bahwa area Mina menjadi tantangan terberat dan titik paling krusial yang memerlukan perbaikan menyeluruh. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan ruang fisik serta penumpukan jemaah dari seluruh dunia.
"Memang kita akui salah satu titik kelemahan kemarin adalah di Mina. Seluruh jemaah dari seluruh dunia bertumpuk di sana. Luasan Mina berbeda dengan Arafah. Arafah itu sekitar 17 kilometer persegi, sementara Mina hanya sekitar 8–9 kilometer persegi. Itu pun yang bisa digunakan tidak lebih dari 5 kilometer persegi karena sebagian berupa gunung batu, sehingga terjadi kepadatan jemaah," jelasnya.
Selain persoalan wilayah Mina, tim Amirul Hajj juga menyoroti aspek transportasi pasca-Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), khususnya terkait jeda operasional Bus Shalawat serta ketersediaan fasilitas dasar bagi jemaah perempuan.
"Pengoperasian Bus Shalawat alhamdulillah cukup bagus, hampir tidak ada jeda dan terus berputar. Hanya saja, pasca-Armuzna memang ada kebijakan dari pemerintah setempat untuk menghentikannya sementara. Kami berharap ke depan pembukaan kembali bisa lebih cepat, karena banyak jemaah yang selesai dari Armuzna ingin langsung Tawaf Ifadah, tetapi harus menunggu bus agak lama," lanjutnya.
"Tim Amirul Hajj juga menyoroti fasilitas tenda maupun toilet di Armuzna yang masih jauh dari mencukupi, terutama untuk perempuan. Selain itu, masalah penumpukan sampah plastik yang sangat banyak di sana juga menjadi perhatian juga," tambah Irfan.
Evaluasi lain yang dipaparkan mencakup adanya kesenjangan kualitas performa antara petugas kloter dengan petugas Balai Pengobatan Haji. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan intensitas pelatihan yang diterima selama di Tanah Air.
"Ada perbedaan performa antara petugas kloter dan petugas BBIH. Petugas BBIH yang kita latih (Jakarta) selama hampir satu bulan relatif performanya bagus dan mendapat apresiasi. Namun, petugas kloter menunjukkan adanya disparitas kualitas karena tidak mengikuti pelatihan serupa. Ke depan, kami berpikir petugas kloter juga harus dilatih sama dengan petugas BBIH," ujarnya. (*)
Apa Reaksi Anda?