Mengenal Singkat Tradisi Fang Sheng, Melepas Makhluk Hidup dalam Agama Budha dan Maknanya
Ritual Fang Sheng di Vihara Nagarjuna Palangka Raya memaknai pelepasan hewan sebagai latihan mengikis ego, menumbuhkan cinta kasih, dan membebaskan batin dari kebencian.
PALANGKA RAYA - Dari sudut Jalan Mahir Mahar, Lingkar Luar, tepat di Jalan Aslon III, Kota Palangka Raya, suasana hening di sore hari menyelimuti Vihara Nagarjuna. Aroma hio yang terbakar samar-samar terbawa angin, mengiringi sebuah ritual yang menjadi jembatan antara manusia, alam, dan spiritualitas: Fang Sheng.
Sore itu, Jum'at (1/5/2026), ritual ini bukan sekadar rutinitas keagamaan bagi umat Buddha. Ia adalah sebuah proklamasi cinta kasih yang melampaui batas-batas spesies.
Di sana, makhluk-makhluk yang sebelumnya terhimpit dalam kerangkeng besi atau jaring pemikat, bersiap menjemput takdir baru kembali ke pelukan alam.
Bhiksu Duta Guna, atau yang dikenal sebagai Suhu Chuan De, duduk dengan tenang saat menjelaskan filosofi di balik kepak sayap burung yang sebentar lagi akan membelah langit Kota Palangka Raya.
Menurutnya, Fang Sheng adalah latihan paling purba untuk mengikis ego manusia.
"Kita membebaskan makhluk yang tadinya terkurung. Yang hendak disembelih, kita beli dan kita lepaskan. Di situlah kita sedang mengembangkan cinta kasih dalam diri sendiri," ungkap Suhu Chuan De.
Suhu menjelaskan bahwa ada pengorbanan materi di balik ritual ini.
Umat mengeluarkan harta untuk membeli nyawa-nyawa kecil tersebut. Namun, harta yang keluar bukanlah sebuah kerugian, melainkan alat untuk menghancurkan kemelekatan manusia terhadap duniawi.
Dengan melepas materi demi kebebasan makhluk lain, seseorang sebenarnya sedang membebaskan dirinya sendiri dari sifat serakah.
Bagi Suhu Chuan De, manifestasi Fang Sheng yang paling berat justru terjadi di dalam hati manusia, bukan di luar kandang hewan. Ia menekankan bahwa hakikat melepaskan memiliki dimensi sosial yang sangat luas.
"Sebenarnya Fang Sheng itu bukan hanya dalam lingkup hewan. Dalam kehidupan kita, memaafkan orang yang bersalah kepada kita, melepaskan kebencian yang membelenggu batin, itu juga Fang Sheng," tutur suhu dengan bijak.
Pesan ini menjadi sangat relevan di tengah hiruk-pikuk dunia modern. Bahwa menyelamatkan semut yang hampir tenggelam di kubangan air adalah tindakan mulia, namun menyelamatkan hati sendiri dari racun dendam adalah pencapaian spiritual yang tak kalah tinggi.
Di bawah langit Tambun Bungai, ritual ini menjadi pengingat akan harmoni. Setiap hewan yang bebas membawa doa dan harapan agar keseimbangan alam tetap terjaga.
Bagi umat Buddha, setiap tindakan penyelamatan akan menanam benih karma baik yang kelak akan berbuah kebahagiaan di masa depan.
Saat burung-burung dilepaskan dan akhirnya terbang menjauh dari Vihara tersebut, mereka tidak hanya sekedar meninggalkan kandang fisik. Mereka meninggalkan sebuah pesan bagi setiap mata insan yang memandang bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam genggaman yang erat, melainkan dalam tangan yang terbuka untuk memberi dan melepaskan.
Melalui Fang Sheng, Vihara Nagarjuna mengajak kita semua untuk kembali menengok ke dalam diri. Sudahkah kita melepaskan cinta kasih hari ini? Ataukah kita masih membiarkan kebencian tetap mengurung batin kita sendiri.(*)
Apa Reaksi Anda?