Korban Dugaan Keracunan MBG Tegalombo Pacitan Tembus 139 Orang, Hasil Lab Belum Keluar
Hingga Senin, 13 April 2026, total korban tercatat mencapai 139 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 28 siswa masih menjalani perawatan.
PACITAN - Jumlah korban dugaan keracunan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan, terus bertambah.
Hingga Senin, 13 April 2026, total korban tercatat mencapai 139 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 28 siswa masih menjalani perawatan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Pacitan, Nur Farida, mengatakan pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.
Sampel makanan telah dikirim sejak Sabtu lalu dan diperkirakan hasilnya baru keluar dalam lima hari ke depan.
“Total korban saat ini 139 orang. Hari ini yang masih dirawat ada 28 siswa. Hasil laboratorium belum keluar, kemungkinan lima hari lagi,” ujar Nur Farida. Senin (13/4/2026).
Dinas Kesehatan Pacitan, lanjut dia, telah mengambil sejumlah langkah cepat dalam penanganan kasus ini. Penanganan dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Pacitan, Daru Pustikoaji, dengan memastikan kondisi pasien terus dipantau secara intensif.
Menurut Farida, kondisi para pasien saat ini berangsur membaik. Selain itu, Dinkes juga mengerahkan tim kesehatan lintas wilayah, melibatkan Puskesmas Tegalombo, Gemaharjo, Gedungbendo, hingga Arjosari.
Koordinasi dengan pemerintah kecamatan juga dilakukan untuk memperkuat respons di lapangan, termasuk edukasi pola hidup bersih dan sehat kepada masyarakat.
Di sisi lain, program MBG yang diduga menjadi sumber keracunan untuk sementara dihentikan. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kebondalem disuspend sejak Senin, 13 April 2026, hingga hasil laboratorium keluar.
Langkah pengiriman sampel ke laboratorium di Yogyakarta dipilih demi mempercepat proses pemeriksaan.
Menurut Farida, jika dikirim ke Surabaya, waktu tunggu bisa mencapai dua pekan karena tingginya antrean sebagai laboratorium rujukan wilayah timur Indonesia.
“Hasilnya kami upayakan lebih cepat dengan mengirim ke Yogyakarta. Kalau ke Surabaya bisa sampai dua minggu,” kata dia.
Hingga kini, penyebab pasti dugaan keracunan massal tersebut masih menunggu hasil uji laboratorium.(*)
Apa Reaksi Anda?