Imam Hambali Sang Legenda: Sepak Bola Banyuwangi Kehilangan Karakter
Sang legenda pemain sepak bola Banyuwangi tersebut menyoroti memudarnya karakter tim dan pemain dalam tubuh Laskar Blambangan.
BANYUWANGI - Sepak bola Banyuwangi dinilai tengah kehilangan ruhnya. Pernyataan tersebut diungkapkan langsung oleh Imam Hambali.
Sang legenda pemain sepak bola Banyuwangi tersebut menyoroti memudarnya karakter tim dan pemain dalam tubuh Laskar Blambangan.
“Yang hilang itu karakter. Karakter tim, karakter pemain, sampai rasa memiliki terhadap Persewangi dari pemain, masyarakat, dan suporternya,” ujar Hambali, Minggu (26/4/2026).
Pemain bintang Arema di era 90an awal ini juga menegaskan, kondisi ini harus segera diperbaiki melalui kerja bersama seluruh elemen sepak bola daerah.
Menurutnya, langkah awal yang harus dilakukan adalah memprioritaskan pemain lokal. Hambali meyakini bahwa dari wilayah Banyuwangi, mulai dari Gumitir hingga Baluran, selalu ada talenta yang bisa dikembangkan.
“Saya tidak anti pemain luar, tapi kalau memang harus mengambil dari luar, kualitasnya minimal satu tingkat di atas pemain lokal,” tegasnya.
Dia juga menyoroti perbedaan mendasar antara pemain lokal dan pemain luar. Hambali menyebut militansi dan rasa memiliki pemain lokal jauh lebih kuat.
“Dulu, zamannya saya, semua pemain itu petarung. Itu yang sekarang hilang,” cetusnya
Dia mencontohkan keberhasilan Arema pada masa lalu. Meski bukan tim dengan finansial terbesar, Arema mampu menjadi juara karena memiliki pemain-pemain berkarakter kuat.
“Tim dengan teknik tinggi bisa kesulitan menghadapi tim yang punya militansi dan semangat juang tinggi,” jelasnya.
Pelatih Lisensi B AFC asal Banyuwangi, Coach Bagong Is Wahyudi (kiri) saat menjadi narsum di acara Meramu Tim Ideal Banyuwangi. (Foto: Fazar Dimas/TIMES Indonesia)
Sementara itu, pandangan senada juga disampaikan oleh pelatih Lisensi B AFC asal Banyuwangi, Coach Bagong Iswahyudi.
Dia menilai bahwa Persewangi sebagai ikon sepak bola Banyuwangi perlu melakukan pembenahan dari sisi manajemen.
“Kepengurusan harus melibatkan orang-orang lokal yang kompeten dan benar-benar paham sepak bola,” ujarnya.
Bagong juga menyoroti pentingnya menyatukan klub-klub internal serta memperbaiki hubungan antar suporter yang dinilai masih terpecah.
“Ini tugas besar pengurus untuk menyatukan semua elemen,” ungkapnya.
Dari sisi finansial, Bagong mengakui kondisi Persewangi sebenarnya cukup baik. Gaji pemain lancar, dan fasilitas memadai. Namun, dia mempertanyakan minimnya prestasi yang diraih.
Menurutnya, faktor pelatih sangat berpengaruh. Bagong menilai tim yang sebelumnya dibangun sudah solid, namun perubahan pelatih di tengah jalan justru merusak keseimbangan tim.
“Ketika satu pemain dicoret, chemistry satu tim bisa hilang,” tegasnya.
Selain itu, Bagong juga mengungkap adanya indikasi penurunan disiplin pemain setelah terjadi perubahan komposisi tim. Hal ini semakin memperburuk performa di lapangan.
Meski demikian, Bagong tetap optimistis terhadap potensi pemain lokal Banyuwangi.
Dia menyebut banyak talenta muda berbakat, terutama dari ajang Porprov dan Popda. Namun, kurangnya kompetisi membuat regenerasi pemain tidak berjalan optimal.
“Saya lihat baru yang di Popda, yang di bangkalan itu yang muncul, itu bagus juara dua. Talenta itu ada, tapi harus dimunculkan terus,” kata Bagong. (*)
Apa Reaksi Anda?