Donald Trump Tolak Rusia dan China Simpan Uranium Iran

Presiden AS Donald Trump menolak Rusia atau China menyimpan uranium Iran dan menegaskan Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk semua pihak.

Mei 28, 2026 - 11:31
Donald Trump Tolak Rusia dan China Simpan Uranium Iran

JAKARTA - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Donald Trump menegaskan penolakannya terhadap kemungkinan Rusia maupun China menyimpan cadangan uranium Iran yang telah diperkaya.

Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di Washington, Rabu (27/5/2026), di tengah negosiasi sensitif terkait program nuklir Iran dan meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk.

“Tidak, saya tidak akan merasa nyaman. Itu tidak akan membuat saya nyaman,” kata Trump saat ditanya kemungkinan Rusia atau China mengambil alih penyimpanan uranium Iran.

Uranium Iran Jadi Titik Paling Sensitif

Isu penyimpanan uranium Iran menjadi salah satu titik paling krusial dalam perundingan antara Washington dan Teheran.

Sebelumnya, perusahaan nuklir negara Rusia, Rosatom, menyatakan kesiapannya membantu memindahkan uranium Iran yang telah diperkaya apabila diminta sebagai bagian dari kesepakatan internasional.

Pernyataan itu diperkuat Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, yang menyebut Moskwa siap menyimpan material nuklir Iran jika Teheran menghendakinya.

Namun bagi Washington, kontrol terhadap material nuklir Iran tetap menjadi isu keamanan strategis yang tidak bisa dilepas begitu saja kepada negara pesaing geopolitik AS.

Trump sebelumnya juga pernah menyebut negosiator Iran percaya hanya AS dan China yang memiliki kemampuan teknis memindahkan material nuklir tersebut.

Selat Hormuz Jadi Arena Perebutan Pengaruh

Selain isu nuklir, Trump juga menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dikuasai Iran maupun negara lain.

“Selat itu akan terbuka bagi semua pihak. Itu adalah perairan internasional. Tidak ada yang akan mengendalikannya,” ujar Trump dalam rapat kabinet.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis dunia yang menjadi lintasan utama distribusi minyak global. Ketegangan di kawasan tersebut langsung memengaruhi stabilitas energi internasional.

Trump menyatakan AS akan terus mengawasi jalur tersebut, terutama setelah Angkatan Laut AS mulai memblokade lalu lintas maritim menuju dan keluar pelabuhan Iran sejak 13 April lalu.

Washington menyebut kapal non-Iran masih dapat melintas selama tidak membayar pungutan kepada Teheran, meski pemerintah Iran sendiri belum secara resmi memberlakukan biaya tersebut.

Konflik Iran-AS Belum Menemukan Jalan Keluar

Ketegangan terbaru ini merupakan kelanjutan konflik besar yang pecah setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari lalu.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 3.000 orang dan memperburuk stabilitas kawasan.

Meski gencatan senjata diumumkan pada 7 April, pembicaraan lanjutan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan jangka panjang.

Di tengah belum adanya perang terbuka baru, blokade maritim dan tarik ulur diplomasi nuklir memperlihatkan konflik kini bergeser ke arena tekanan ekonomi, energi, dan penguasaan jalur perdagangan strategis.

Dunia Mengkhawatirkan Eskalasi Baru

Sikap Trump yang menolak keterlibatan Rusia dan China dalam pengelolaan uranium Iran sekaligus memperlihatkan persaingan global yang semakin tajam di balik isu nuklir Timur Tengah.

Bagi AS, persoalan Iran kini bukan hanya soal senjata nuklir, tetapi juga perebutan pengaruh geopolitik dengan Rusia dan China di kawasan yang menjadi pusat energi dunia.

Ketidakpastian tersebut membuat dunia internasional terus mengkhawatirkan potensi eskalasi baru, terutama jika negosiasi nuklir kembali menemui jalan buntu.(*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow