Dari Seni Jalanan Hingga Ruang Pameran, Cara Amin Kenalkan Seni Lukis ke Publik
Amin, seorang pelukis jalanan di CFD Kota Malang, membagikan kisahnya menekuni seni sketsa wajah selama bertahun-tahun hingga menjadikannya profesi.
MALANG - Cara seniman dalam memperkenalkan hasil karyanya memang selalu unik. Contohnya seperti yang dilakukan oleh Amin, seorang pelukis jalanan yang biasa mangkal di Car Free Day (CFD) Kota Malang setiap Minggu.
Sejak pagi hari, pemuda asal Dau tersebut sibuk menggoreskan pensil di atas kertas. Hanya dalam waktu sekitar 15 menit, sketsa wajah pengunjung berhasil diselesaikan dengan detail yang menyerupai objek aslinya.
“Saya biasa mangkal di CFD sini, kalau tadi saya menggambar wajah klien pake teknik sketsa, itu 15 menit jadi,” ujarnya saat ditemui TIMES Indonesia, Minggu (7/6/2026).
Amin mengaku menekuni dunia lukis sejak kecil. Ayahnya yang merupakan seorang pelukis menurunkan semangat dan jiwa seni kepadanya. Awalnya, ia hanya menjadikan kegiatan tersebut sebagai hobi. Namun, sejak 2020, Amin mulai mengambil langkah serius untuk mengasah bakatnya dan hingga saat ini melukis adalah bagian dari pekerjaannya.
Amin mengaku karya yang sering ia buat adalah menggambar wajah. Menurutnya, potret wajah menjadi tantangan tersendiri karena tingkat kemiripannya harus tinggi agar mudah dikenali.
Kemampuan menggambar wajah yang kini dikuasainya tidak diperoleh secara instan. Ia mengaku membutuhkan waktu selama enam tahun untuk mempelajari teknik sketsa hingga mampu menghasilkan gambar yang menyerupai objek aslinya.
“Kan kalau gambar pemandangan kalau gak mirip masih bisa disebut pemandangan, beda dengan gambar wajah, satu inchi atau satu cm beda maka udah gak mirip,” jelasnya.
Menurutnya, proses paling lama dalam menggambar wajah adalah proses sketsa. Tambahnya, sebelum bisa menggambar sketsa secara lancar, Amin sempat menggunakan teknik “menjiplak”, dari yang awalnya tidak mirip menjadi mirip.
Selain menggambar sketsa, Amin juga kerap melukis dengan cat air serta lukisan bergaya scribble. Sementara itu, sketsa wajah dan karikatur dibanderol Rp50 ribu, lukisan cat air mencapai Rp100 ribu. Sedangkan, scribble atau gambar berbasis goresan tinta yang dijual seharga Rp60 ribu.
Amin menambahkan bahwa ketiga gaya tersebut memiliki teknik dan keunikan tersendiri. Sketsa mengandalkan teknik arsiran menggunakan pensil, sedangkan karikatur dan scribble menggunakan tinta dengan teknik hatching atau arsiran khusus. Adapun lukisan cat air membutuhkan penguasaan medium warna yang berbeda lagi.
“Paling utama dari ketiganya adalah kita harus menguasai material, misal menggunakan pensil maka harus menguasai tekniknya bagaimana, kalau pakai tinta ya harus tau juga tekniknya,” tambahnya.
Selain mangkal di CFD, Amin kerap mangkal di Kayutangan pada sore hingga malam hari. Meski jumlah pelanggan tidak selalu ramai setiap hari, ia tetap konsisten berkarya dan menjadikan seni lukis sebagai profesi yang ditekuni.
Tidak hanya di jalanan, Amin juga kerap memamerkan karyanya di pameran, baik pameran tunggal atau bersama. Ia menjelaskan, pameran bersama memiliki tema tertentu yang harus dipenuhi oleh pelukis serta memiliki cerita tertentu. Sementara pameran tunggal lebih berfokus pada tema pribadi si pelukis.
“Kalau di pameran lukisannya lebih naratif, beda dengan ngelukis di jalan gini yang langsung melukis objek,” pungkasnya. (*)
Apa Reaksi Anda?