Bahas Haji Mabrur, Jemaah Haji Indonesia Padati Kajian Ustadz Ariful Bahri
Simak kajian Ustadz Ariful Bahri di pintu 19 Masjid Nabawi Madinah. Ustadz asal Riau ini menjelaskan bahwa ciri haji mabrur dibuktikan saat jemaah kembali ke Tanah Air.
MADINAH - Masjid Nabawi tentunya memiliki keistimewaannya tersendiri dibalik keistimewaan masjidnya, kajian-kajian yang sering dilakukan di masjid ini juga menarik untuk diikuti diantaranya kajian dari Ustadz Ariful Bahri.
Ustadz Ariful Bahri sendiri menjadi salah satu pengajar kajian di Masjid Nabawi tepatnya di pintu 19 dengan menggunakan bahasa Indonesia yang dilakukan setiap hari setelah shalat maghrib hingga menjelang adzan isya.
Pada musim haji 2026 ini, Ustadz Ariful Bahri yang juga menjadi dosen di Universitas Islam Madinah ini kerap membahas soal haji kepada jemaah haji Indonesia yang shalat di Masjid Nabawi.
Dalam pantauan langsung TIMES Indonesia saat kajian berlangsung, gerbang pintu 19 Masjid Nabawi dipadati oleh sejumlah jemaah haji Indonesia yang ingin mendengarkan dan menyimak kajian ustadz asal Kampar, Riau.
Tidak hanya saat kajian, beberapa jemaah haji Indonesia bahkan sudah bersiap-siap sebelum adzan maghrib dengan mengambil barisan atau saf di dekat pintu 19 Masjid Nabawi.
Jemaah haji Indonesia saat menyimak kajian ustadz Ariful Bahri. (FOTO: Fahmi/MCH 2026)
Murtadho jemaah haji Indonesia asal Tangerang Banten yang telah tiba di Madinah beberapa hari lalu mengaku senang mendengarkan kajian dari Ustadz Ariful Bahri.
“Alhamdulillah, sudah tiga hari ini saya ikut kajian beliau,” ucap Murtadho kepada petugas Media Center Haji di Masjid Nabawi Madinah dikutip pada Rabu (6/5/2026).
Pertanda Haji Mabrur
Dalam kajian tersebut, Ustadz Ariful Bahri mengatakan ciri-ciri atau pertanda haji mabrur tersebut bukanlah di Madinah maupun di Makkah. Pertanda mabrur sendiri saat sudah kembali ke tanah air.
“Sepulangnya ia dari tanah haram, dari melaksanakan ibadah haji, tak sanggup lagi solat berjamaah, itu tanda hajinya tidak mabrur. Berat haji mabrur itu. Haji mabrur itu pertandanya bukan di sini tapi ujian itu ada dikala kita balik. Maka itu baru disebut dengan mabrur,” ungkapnya.
“Menjadi mabrur artinya adalah mendatangkan kebaikan dalam kehidupan, yang bisa merubah seseorang dari buruk menjadi baik, dari baik menjadi lebih baik baru ktu disebut mabrur,” ungkapnya.
“Pertanda haji mabrur itu nanti, sebaliknya kita ke kampung halaman masih solat atau tidak? masih baca Quran atau tidak? masih berzikir atau tidak? masih bisa menangis atau tidak? Itu baru disebut dengan haji mabrur,” ulangnya.
“Allah tak memuji orang yang melaksanakan ibadah haji, tapi Allah puji haji yang mabrur dan semoga Allah bagi kita semuanya haji dan umrah yang mabrur,” tandasnya. (*)
Apa Reaksi Anda?