46 Tahun Menjaga Warisan Mainan Tradisional, Toha Setia Jual Pesawat Kayu di Sudut Kota Malang
Selama 46 tahun, Toha, perajin pesawat kayu asal Kabupaten Malang, bertahan menjual mainan tradisional di tengah gempuran era digital. Ia berupaya melestarikan warisan budaya yang diwariskan ayahnya.
MALANG - Di tengah hiruk-pikuk Kota Malang, seorang pria tampak setia menjaga warisan budaya melalui mainan tradisional berupa pesawat kayu dengan baling-baling yang masih berputar. Ia biasa berjualan di kawasan Jalan Bandung, tepatnya di depan Kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Program Studi Fisioterapi.
Pria tersebut adalah Toha (62), warga Desa Argosari, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Hampir setiap hari ia menjajakan pesawat kayu hasil karyanya sendiri di berbagai sudut Kota Malang. Tak jarang, ia harus berjalan kaki dari kawasan Blimbing menuju lokasi berjualan sambil membawa sekitar 20 unit mainan.
“Saya jualan hampir setiap hari, kadang seminggu enam kali kalau sedang capek,” ujarnya sambil tersenyum, Minggu (31/5/2026).
Bagi Toha, menjual pesawat kayu bukan sekadar cara mencari nafkah. Di balik aktivitas tersebut, tersimpan tekad untuk menjaga keberlangsungan mainan tradisional yang telah diwariskan ayahnya sejak puluhan tahun lalu.
Ia ingin generasi muda tetap mengenal permainan tradisional di tengah maraknya mainan modern dan perangkat digital.
“Bapak ingin melestarikan mainan tradisional. Sekarang memang banyak mainan yang bagus-bagus, tapi mainan tradisional seperti ini harus tetap ada,” katanya.
Komitmen itu telah dijalaninya selama 46 tahun. Sejak usia 15 tahun, Toha menekuni pembuatan dan penjualan pesawat kayu hingga sekarang.
“Saya jualan seperti ini sejak umur 15 tahun sampai sekarang, total sekitar 46 tahun,” ungkapnya.
Berawal dari Keinginan Memiliki Mainan Pesawat
Perjalanan Toha menjadi perajin pesawat kayu bermula dari pengalaman masa kecilnya. Saat itu, ia sangat ingin memiliki mainan pesawat terbang. Namun, kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan orang tuanya membelikan mainan tersebut.
Suatu hari, Toha menemukan sebuah pesawat mainan yang rusak dan terjatuh. Benda itulah yang kemudian menjadi inspirasi bagi ayahnya untuk membuat replika sederhana dari kayu.
Tanpa pendidikan khusus atau pelatihan kerajinan, Toha belajar dari proses mengamati dan meniru bentuk pesawat tersebut.
“Dulu bapak nangis ingin punya pesawat, tapi tidak bisa beli. Tiba-tiba menemukan pesawat yang jatuh. Akhirnya sama ayah ditiru, dan dari situ bapak bisa membuatnya sampai sekarang dan bisa dijual,” kenangnya.
Pesawat kayu buatan Toha menggunakan bahan dasar kayu randu yang dinilainya lebih kuat dan tidak mudah patah. Bahan baku tersebut diperoleh dari kebun miliknya sendiri.
Seluruh proses pembuatan dilakukan secara mandiri, mulai dari mencari bahan, memotong kayu, mengamplas, hingga merakit setiap bagian menjadi pesawat terbang.
Dalam sehari, Toha mampu memproduksi dua hingga tiga unit pesawat kayu.
Menurutnya, proses pembuatannya tidak terlalu rumit. Setelah kayu ditebang, bahan dipotong sesuai ukuran badan pesawat, sayap, dan baling-baling. Selanjutnya seluruh komponen dirakit dan dihaluskan menggunakan amplas.
Toha menyebut mainan tersebut dahulu dikenal dengan nama “pesawat mendit”.
Bertahan di Tengah Gempuran Era Digital
Satu unit pesawat kayu dijual dengan harga Rp50 ribu. Pada hari-hari ramai, Toha dapat menjual hingga 15 unit dalam sehari.
“Satu pesawat ini bapak jual Rp50 ribu. Kebanyakan yang beli orang tua, bahkan mahasiswa,” ujarnya.
Meski demikian, rutinitas itu tidak selalu mudah dijalani. Di usia yang tak lagi muda, Toha masih harus berpindah-pindah lokasi untuk menawarkan dagangannya.
Terkadang ia pulang pada siang hari, sore hari, bahkan sesekali menjelang Subuh. Namun, rasa lelah tersebut terbayar ketika melihat pesawat kayu buatannya diminati banyak orang.
Toha mengaku selalu bersyukur atas setiap hasil yang diperolehnya. Baginya, yang terpenting adalah penghasilan tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai anak-anaknya yang menempuh pendidikan di pesantren.
Sementara itu, istrinya turut membantu perekonomian keluarga dengan berjualan sembako di rumah.
Di balik setiap pesawat kayu yang terjual, Toha menyimpan harapan sederhana. Ia berharap para pembelinya memperoleh keberkahan, sebagaimana dirinya memperoleh rezeki dari hasil karya yang telah ditekuninya selama puluhan tahun.
“Semoga pembeli pesawat kayu ini mendapatkan keberkahan, karena dari merekalah bapak bisa menghidupi keluarga kecil bapak,” tuturnya. (*)
Apa Reaksi Anda?